#StressLessEarnMore

4 Tipe Perilaku Konsumen dan Cara Bisnis Menyikapinya di Era Digital

Tipe-tipe Konsumen
Tipe-tipe Konsumen
Apa saja tipe perilaku konsumen

Buat digital marketer, pernah nggak ngerasa udah habisin budget iklan gede-gedean, tapi hasilnya gitu-gitu aja; konversi stuck, engagement anjlok, ROI pun nggak karuan? Kalau iya, besar kemungkinan kamu belum nyesuaiin strateginya ke tipe perilaku konsumen zaman sekarang, utamanya di era digital.

Bahkan berdasarkan riset industri, dikutip dari Amra & Elma, sampai 68% bisnis mengakui kampanye digital mereka juga buang-buang budget. Alasannya pun hampir sama, karena strateginya kurang efektif buat tipe perilaku konsumen masa kini. 

Makanya di artikel ini, kita bakal bedah kenapa memahami tipe perilaku konsumen itu krusial bisnis bisnis di era digital. Mulai dari definisinya, keempat tipe perilaku yang sering muncul, sampai cara cerdas menyikapinya supaya kampanye kamu nggak mubazir. Yuk, lanjut baca biar strategi kamu nggak bikin boncos terus!

Apa Itu Tipe Perilaku Konsumen?

Sebelum kita tenggelam ke detail, yuk kita pahami dulu apa yang dimaksud sama perilaku konsumen, biar nanti nggak ada kesalahpahaman.

Secara sederhana, mengutip Oxford University, perilaku konsumen adalah kajian soal bagaimana individu, kelompok, atau organisasi memilih, membeli, menggunakan, dan akhirnya mengevaluasi produk atau jasa demi memenuhi kebutuhan atau keinginan mereka.

Jadi, perilaku konsumen itu juga tentang psikologi audiens di balik keputusannya. Mulai dari motivasinya apa, preferensinya juga, sampai bagaimana lingkungan mempengaruhi pilihan mereka. Menyadari tentu penting, biar kamu sebagai marketer bisa nyusun strategi pemasaran lebih on-point.

Kenapa Memahami Tipe Perilaku Konsumen penting buat Bisnis?

Setelah paham pengertiannya, kita lanjut bahas kenapa memahami tipe perilaku konsumen jadi penting buat bisnis. Telkom University, menegaskan kalau insight perilaku pelanggan memengaruhi efektivitas strategi bisnis. Berikut beberapa alasannya:

1. Bantu Bisnis Membaca Pola Keputusan Nyata

Telkom University menyoroti bahwa konsumen nggak selalu memilih berdasarkan logika; faktor emosi, konteks, dan pengalaman sebelumnya pun ikut membentuk keputusan. Jadi kalau brand paham pola ini, strategi marketing nggak akan salah sasaran.

2. Meningkatkan Relevansi Pesan dan Konten

Bisnis yang ngerti tipe perilaku konsumennya bisa membangun pesan yang lebih tepat waktu dan tepat kebutuhan. Contohnya, kalau pelanggan mencari efisiensi, kamu bisa langsung fokus pada manfaat yang menyelesaikan pain point tersebut.

3. Mengoptimalkan Pengalaman Pelanggan End-to-End

HBR menekankan pentingnya journey. Dengan memahami tipe perilaku konsumen, kamu bisa memperbaiki titik-titik gesekan seperti proses checkout, respons CS, atau alur landing page yang bikin pelanggan kabur.

4. Memperkuat Retensi dan Loyalitas

Saat bisnis bisa memprediksi preferensi pelanggan, hubungan jangka panjang jadi lebih mudah terbentuk. Contohnya, rekomendasi personal atau after-sales yang relevan bisa bikin pelanggan merasa diperhatikan dan tetap balik.

5. Memengaruhi Risiko Keputusan Bisnis yang Mahal

Tanpa insight tipe perilaku konsumen, campaign bisa boros budget. Telkom University menegaskan kalau keputusan berbasis data perilaku lebih kecil kemungkinan gagalnya, karena didasari pola nyata, bukan asumsi.

Model Perilaku Konsumen Menurut para Ahli

Setelah tahu pentingnya memahami tipe perilaku konsumen, sekarang kita masuk ke modelnya. Dari riset Paz & Vargas, ada beberapa model yang nge-bentuk keputusan belanja konsumen modern.

1. Perceived Economic Value

Model ini nunjukkin bahwa konsumen makin sensitif soal nilai ekonomis. Mereka ngecek apakah harga sebanding dengan manfaat. Kalau value-nya masuk akal, niat beli juga makin kuat. Ini bikin brand perlu transparan tentang manfaat inti produknya.

2. Perceived Functional Value

Model tipe perilaku konsumen kedua, ngejelasin bahwa fungsi nyata produk, apakah beneran memudahkan hidup atau menyelesaikan masalah spesifik, jadi pemicu keputusan penting. Semakin relevan fungsinya dengan kebutuhan harian, semakin tinggi niat beli.

3. Perceived Aesthetic Value

Penelitian yang sama bilang tampilan visual tetap punya peran. Konsumen sering ngerasa lebih nyaman atau percaya diri pakai produk yang desainnya enak dilihat. Ini menunjukkan estetika bukan sekadar bonus, tapi bagian dari proses evaluasi.

4. Perceived Assurance Value

Ini terkait rasa aman dan kepercayaan. Riset tadi juga bahas gimana model tipe perilaku konsumen ada yang butuh jaminan kualitas, garansi, atau bukti reliabilitas sebelum commit. Buktinya, produk yang punya kredibilitas kuat cenderung lebih gampang dipilih.

5. Normative Influence

Penelitian tadi juga nyorot pengaruh sosial. Konsumen sering ngikut pola, rekomendasi, atau ekspektasi lingkungan. Entah dari teman, keluarga, atau komunitas digital, faktor sosial ini bisa ngedorong niat beli lebih kuat daripada promosi langsung.

6. Perceived Protective & Societal Value

Model tipe perilaku konsumen terakhir, bilang kalau konsumen makin mempertimbangkan apakah produk ini baik buat lingkungan, aman, atau bertanggung jawab secara sosial. Nilai keberlanjutan dan etika semakin ngaruh, terutama pada segmen yang peduli dampak jangka panjang.

4 Tipe Perilaku Konsumen dan Cara Menyikapinya

Setelah memahami model perilaku yang dibahas di bagian sebelumnya, sekarang kita masuk ke empat tipe perilaku konsumen di era digital. Bagian ini dikutip dari ebook Aditya Wardana, tentang “Consumer Behavior in The Digital Era”.

1. The Value-Driven Consumer

Acuan dari buku Aditya Wardana, ngasih gambaran jelas bahwa konsumen digital makin kritis menilai value, terutama aspek ekonomi, fungsi, dan manfaat nyata. Mereka bukan cuma cari harga murah, tapi value yang terasa sepadan sama effort dan kebutuhan harian mereka.

Di konteks strategi bisnis, tipe perilaku konsumen ini butuh informasi yang lugas. Mereka bakal lebih cepat klik beli kalau brand bisa kasih detail manfaat yang konkret, bukan jargon yang sulit diukur. Transparansi fitur dan perbandingan manfaat juga bakal jadi amunisi penting.

Untuk ngadepin konsumen tipe ini, bisnis perlu memperjelas promise produknya. Optimalkan landing page, tampilkan bukti manfaat, dan jelasin apa yang bikin produk kamu worth it. Semakin mudah mereka menilai value, semakin cepat mereka memutuskan beli.

2. The Experience-Oriented Consumer

Di buku itu juga dibahas bahwa nilai estetika dan rasa nyaman ketika berinteraksi sama produk punya porsi penting dalam keputusan pembelian. Tipe ini ngeliat pengalaman pakai produk sebagai bagian dari value utama yang mereka cari.

Mereka bukan cuma peduli tampilan visual; pengalaman dari awal sampai akhir, mulai dari browsing, checkout, sampai after-sales, ikut menambah atau mengurangi minat mereka. Semakin smooth, semakin tinggi intensi mereka buat terus memakai produkmu.

Buat menyikapinya, pastikan UX jadi prioritas. Pastikan tampilan rapi, navigasi gampang, dan proses transaksinya mulus. Buat mereka ngerasa “cocok” sejak first touch. Kalau bagian ini kuat, keputusan beli bakal datang lebih cepat dibanding kampanye promosi besar.

3. The Trust-First Consumer

Aditya Wardana juga ngejelasin pentingnya rasa aman, kepercayaan, dan kredibilitas. Tipe perilaku konsumen ini butuh jaminan dulu sebelum commit, baik berupa ulasan, bukti kualitas, kebijakan pengembalian, atau konsistensi brand.

Mereka lebih nyaman belanja dari brand yang kelihatan stabil dan bisa diandalkan. Kalau ada gap dalam informasi atau kebijakan yang bikin mereka ragu, kemungkinan besar mereka mundur dan pilih kompetitor.

Cara menyikapinya, perkuat semua elemen yang bikin konsumen percaya: tampilkan review asli, sertifikasi, garansi, dan kebijakan yang jelas. Komunikasi harus stabil dan konsisten di semua channel. 

4. The Social-Influenced Consumer

Masih dari sumber yang sama, tipe perilaku konsumen empat ini butuh pengaruh sosial masih kuat banget dalam keputusan pembelian. Konsumen digital gampang terpengaruh rekomendasi teman, komunitas, dan bahkan norma sosial yang berlaku di lingkungannya.

Konsumen tipe ini biasanya cari validasi. Mereka mau produk yang sesuai tren, diterima lingkungannya, atau direkomendasikan orang yang dianggap kredibel. Aspek sosial ini kadang lebih kuat daripada promosi langsung.

So, aktifkan strategi social proof dan komunitas. Bangun kampanye UGC, manfaatkan micro-influencer yang relevan, dan perkuat percakapan seputar brand. Kalau kamu hadir di ruang sosial yang tepat, tipe perilaku konsumen ini bakal lebih mudah ngeklik beli.

Tipe Perilaku Konsumen di Era Keberlanjutan

Sekarang kita lihat gimana tipe perilaku konsumen berevolusi di era keberlanjutan. Banyak riset terbaru nunjukin kalau konsumen sekarang makin peduli dampak sosial-lingkungan. Berikut di antaranya:

1. Konsuumen Siap Bayar Lebih Demi Keberlanjutan

Report ERM Sustainability Institute, nunjukin bahwa sebagian besar konsumen bersedia merogoh kocek lebih dalam kalau produk ramah lingkungan, misalnya kemasan berkelanjutan atau bahan daur ulang.

Artinya, kalau brand kamu bisa tampil sebagai pilihan “sustainable but worth it”, ada peluang besar untuk menarik pelanggan yang nggak cuma cari murah, tapi juga peduli dampak.

2. Konsumen makin Selekktif dan Peduli Transparansi

Menurut Gitnux, banyak tipe perilaku konsumen sekarang mengecek dari mana bahan produk berasal, bagaimana proses produksinya, sampai bagaimana dampaknya ke lingkungan. Simpelnya: mereka nggak cuma beli barang, mereka “beli nilai”. 

Bagi brand, ini berarti kamu harus siap buka-bukaan: bisa lewat label, storytelling, atau klaim keberlanjutan yang jelas. Transparansi jadi senjata paling manjur di era ini.

3. Preferensi pada Kemasan dan Produk Bertanggung Jawab Lingkungan Makin Kuat

Madih dari ERM Sustainability Institute, tren ke kemasan ramah lingkungan, produk berkelanjutan, dan jejak karbon rendah semakin populer. Banyak konsumen sekarang memilih produk berdasarkan aspek-aspek ini, bukan cuma benefit langsung.

Brand yang bisa adaptasi, misalnya kemasan eco-friendly atau proses produksi berkelanjutan, bisa tampil beda dan lebih resonate dengan konsumen conscious.

4. Kesadaran Keberlanjutan jadi Bagian Hidup Sehari-hari

Menurut Bain & Company, banyak konsumen yang nggak cuma beli produk “sustainable”, tapi juga mulai mengadopsi kebiasaan ramah lingkungan dalam keseharian mereka, seperti mengurangi konsumsi plastik, lebih selektif dalam belanja, atau mendukung brand yang punya nilai hijau.

Kalau brand kamu bisa ngikutin flow ini, maka juga mendukung gaya hidup hijau, kamu bakal dapet customer yang loyal dan bahkan bisa jadi brand ambassador alami.

Simpulan

Setelah kita ngulik dari definisi sampai cara praktiknya, sekarang kamu pasti mulai ngeh kalau memahami tipe perilaku konsumen itu bukan teori marketing doang, tapi fondasi penting buat ningkatin efektivitas campaign, optimasi budget, dan ningkatin peluang konversi yang lebih stabil di era digital.

Biar makin nempel, ini ringkasannya:

  • Memahami perilaku konsumen bantu kamu baca pola keputusan pelanggan, dari motivasi sampai faktor sosial yang mempengaruhi mereka.
  • Insight perilaku bikin pesan marketing lebih relevan, gampang nyampe, dan lebih tepat ke kebutuhan real audiensmu.
  • Setiap tipe perilaku konsumen butuh pendekatan berbeda, ada yang fokus value, ada yang ngejar pengalaman, ada yang butuh trust kuat, dan ada yang ngikutin pengaruh sosial.
  • Tren keberlanjutan makin kuat, dan konsumen digital makin peduli dampak sosial-lingkungan, bukan cuma harga atau fitur.

 

Tapi kalau setelah dipraktikkan kamu masih kesulitan nyusun strategi konten yang nyambung sama kebutuhan audiens, konversimu belum stabil, atau komunikasi brand kamu belum resonate ke market, kamu bisa banget gandeng partner yang ngerti ritme brand kamu luar–dalam, misalnya bareng Crepa Agency.

Kami siap bantu lewat layanan social media management, influencer marketing, live shopping, ghost order, web development, sampai strategic consultation yang bisa kamu sesuaikan sama kebutuhan bisnismu biar eksekusinya benar-benar on point.

Mau diskusi ringan atau tanya-tanya soal project? Klik ikon WhatsApp di pojok kanan bawah aja, Crepanion selalu ready buat ngobrol bareng kamu!