Belakangan, narasi di medsos soal “influencer marketing sudah mati” banyak beredar. Alasannya macam-macam: karena konsumen udah gak mempan, ada yang bilang influencer berubah jadi creator-preneur. But, coba deh, lihat strategi influencer marketing Gymshark.
Di Juli 2025, dikutip dari Appbrew, Gymshark mencatat revenue rekor £646 juta, dengan 96% penjualan lewat kanal direct-to-consumer. Apa fondasi dari situ? Yup, strategi influencer marketing Gymshark, yang udah mereka jalanin sejak 2012 sampai sekarang.
So, era endorse belum mati, hanya caranya aja yang berganti. Dan di artikel ini, Crepanion akan membedah strategi influencer marketing Gymshark, dari pola kerja sama kreator sampai framework yang bisa kamu adaptasi.
Insight Penting dari Strategi Influencer Marketing Gymshark
Sebelum bicara framework, kita perlu paham dulu apa yang sebenarnya Gymshark lakukan. Ada lima insight dalam strategi influencer marketing Gymshark, di antaranya:
1. Seeding ke Kreator yang Memang Pengguna Produk
Seeding berarti mengirim produk gratis ke kreator tanpa kontrak berbayar, dengan harapan mereka memakai dan membicarakannya. Di 2012, strategi influencer marketing Gymshark dimulai persis dari sini, menyasar para YouTuber fitness.
Kuncinya ada di kecocokan. Founder Gymshark, Ben Francis, adalah target customer brand-nya sendiri, jadi dia paham apa yang dicari komunitas gym.
Karena kreatornya memang pengguna, strategi influencer marketing Gymshark menghasilkan konten yang terasa seperti rekomendasi sesama pengguna. Audiens dengan minat sama pun lebih mudah percaya.
2. Menaikkan Kreator Terbaik ke Sponsored Athlete Program
Tidak semua kreator yang menerima produk gratis dipertahankan. Gymshark memilih hubungan terbaik, lalu mengangkatnya menjadi sponsored athlete, yaitu atlet atau kreator resmi yang disponsori dan mewakili brand secara rutin.
Bedanya dengan endorsement sekali pasang, atlet sponsor tampil berulang di momen berbeda. Audiens jadi terbiasa melihat orang yang sama memakai Gymshark, sehingga brand terasa melekat pada wajah yang mereka kenal.
Inilah salah satu pembeda strategi influencer marketing Gymshark dari campaign influencer biasa: hubungan dengan kreator dirawat sebagai kemitraan yang berjalan terus.
3. Membangun Komunitas yang Ikut Memproduksi Konten
Gymshark memperlakukan audiens sebagai bagian dari kampanye. Salah satunya lewat Gymshark66, tantangan membangun kebiasaan selama 66 hari berturut-turut, dengan kreator sebagai pemantik dan audiens ikut posting progres mereka.
Hasilnya terukur. Dikutip dari Archive, challenge ini menghasilkan lebih dari 1,1 juta posting Instagram dan 65,7 juta engagement TikTok, sekaligus memberi 66 hari kontak dengan brand di musim orang biasanya berhenti ke gym.
Konten buatan audiens seperti ini disebut user-generated content (UGC). Di strategi influencer marketing Gymshark, UGC menjadi stok materi yang terus bertambah, dan juga memperkuat rasa memiliki komunitasnya.
4. Mengalirkan Semua Hasil Kampanye ke Kanal Milik Sendiri
Direct-to-consumer (DTC) artinya brand menjual langsung ke pembeli lewat kanal miliknya, misalnya website sendiri, tanpa lewat retailer. Menurut Enclaverse, strategi influencer marketing Gymshark sengaja dipasangkan dengan model ini.
Efeknya, setiap perhatian yang dibangun kreator masuk ke kanal Gymshark sendiri. Brand memegang data pembeli dan bisa menjangkau mereka lagi tanpa perantara.
Skala hasilnya terlihat dari angka. Revenue Gymshark mencapai £176 juta di FY2019 dan £258 juta di FY2020, tanpa pendanaan eksternal sampai 2020.
5. Produk Kuat dan Momentum Platform yang Pas
Analisis Enclaverse menyebut strategi influencer marketing Gymshark memang jadi mesin utama pertumbuhan, tetapi baru bekerja maksimal karena ditopang produk yang kuat dan founder yang paham pelanggannya.
Faktor ketiga adalah timing. Gymshark masuk saat Instagram dan YouTube sedang naik daun sekitar 2012 sampai 2016, periode ketika konten kreator masih segar bagi audiens.
Karena itu, strategi influencer marketing Gymshark sebaiknya dibaca sebagai sistem. Hasilnya datang dari kombinasi produk, kreator, komunitas, dan kanal penjualan yang saling menopang.
Framework Menyeleksi dan Mengelola Influencer yang Bisa Ditiru
Setelah paham pola besar di balik Gymshark, saatnya masuk ke cara kerjanya. Framework ini menyusun strategi influencer marketing Gymshark jadi enam langkah, mulai dari menentukan kriteria sebelum kamu menghubungi kreator mana pun.
1. Tetapkan Kriteria Seleksi Berbasis Engagement Rate
Strategi influencer marketing Gymshark memprioritaskan kualitas interaksi di atas jumlah followers. Kreator yang disasar berada di rentang 10 ribu sampai 75 ribu followers, dengan engagement rate sekitar 4 sampai 9%.
Engagement rate adalah total interaksi (like, komentar, share, save) dibagi jumlah followers. Contoh: 100 interaksi dari 2.000 followers berarti engagement rate 5%, masuk kategori sehat.
2. Baca Kualitas Komentar untuk Mengukur Niat Beli
Angka engagement rate belum cukup, karena komentar emoji api tidak menandakan minat beli. Strategi influencer marketing Gymshark justru mencari komentar berisi pertanyaan soal ukuran, bahan, dan kenyamanan produk.
Caranya, buka 10 postingan terakhir kreator, lalu hitung komentar yang bertanya atau meminta rekomendasi. Makin banyak komentar jenis ini, makin besar peluang audiensnya benar-benar mempertimbangkan produk.
3. Cek Kepadatan Niche dan Kecocokan Nilai Brand
Strategi influencer marketing Gymshark memilih kreator yang kuat di satu komunitas spesifik, misalnya women’s strength, powerlifting, atau bodybuilding. Pengaruh yang dalam di satu niche lebih bernilai daripada jangkauan luas.
Sebelum produk dikirim, tim juga mengecek nilai dan riwayat konten kreator. Tujuannya mencegah masalah reputasi muncul setelah kerja sama berjalan.
Checklist cepat sebelum shortlist final:
- Niche: apakah kreator konsisten membahas satu topik yang dekat dengan produkmu?
- Riwayat konten: scroll beberapa bulan ke belakang, cari kontroversi atau kolaborasi dengan kompetitor.
- Nilai dan gaya: apakah cara bicara dan visualnya cocok dengan brand voice-mu?
4. Susun Tangga Kerja Sama dengan Syarat Naik Level yang Jelas
Strategi influencer marketing Gymshark mengelola kreator lewat tiga tingkat, yaitu Seeding, Ambassador, dan Athlete. Tiap tingkat punya ekspektasi berbeda, jadi kreator tahu apa yang harus dicapai untuk naik.
- Seeding: kirim produk tanpa kewajiban posting. Kreator yang memang suka akan posting sendiri, jadi ini sekaligus tahap uji kecocokan.
- Ambassador: kreator yang konsisten diberi ekspektasi konten rutin, dengan kebebasan memilih cara menampilkan produk.
- Athlete: kontrak penuh dengan co-creation produk, integrasi kampanye, dan partisipasi event.
Contoh jadwal untuk brand yang baru mulai:
- Bulan 1 sampai 3: seeding ke 20 sampai 50 kreator mikro, lalu catat siapa yang posting organik.
- Bulan 4 sampai 6: naikkan kreator yang konsisten jadi ambassador.
- Bulan 7 dan seterusnya: pilih 5 sampai 10 kreator terbaik untuk kontrak jangka panjang.
5. Rancang Skema Kompensasi Hybrid
Strategi influencer marketing Gymshark tidak bergantung pada satu jenis bayaran. Skemanya menggabungkan base fee untuk konten yang dijamin, komisi affiliate untuk performa, dan ekuitas untuk atlet teratas yang jumlahnya langka.
- Base fee: bayaran tetap untuk konten yang dijamin tayang. Beri porsi lebih besar kalau targetmu awareness.
- Affiliate commission: komisi dari penjualan yang berasal dari kreator. Perbesar porsinya kalau targetmu konversi.
- Ekuitas: saham untuk atlet teratas, jarang dipakai dan kuat untuk menjaga loyalitas.
Komisi affiliate di program mereka berkisar 2 sampai 10% dengan cookie window 30 hari. Artinya, kreator tetap dapat komisi dari pembelian yang terjadi sampai sebulan setelah audiens klik link-nya.
Contoh sederhana: komisi 5% dan audiens membeli Rp1.000.000 lewat link kreator berarti kreator menerima Rp50.000. Skema ini mendorong kreator membuat konten secara berkelanjutan.
6. Bangun Sistem Tracking dan Evaluasi Rutin
Strategi influencer marketing Gymshark baru bisa dikelola di skala besar karena performa tiap kreator terpantau. Tanpa tracking, kamu tidak tahu kreator mana yang layak naik level atau dihentikan.
Tiga hal yang perlu dipantau:
- Capture: kumpulkan semua postingan, Story, dan mention kreator, termasuk yang tidak men-tag brand.
- Attribution: hubungkan konten ke hasil lewat link unik atau kode diskon per kreator.
- Evaluasi: tinjau engagement rate, kualitas komentar, format konten terbaik, dan konversi, lalu putuskan siapa naik level atau dihentikan.
Spreadsheet masih cukup untuk 5 sampai 10 kreator, tetapi mulai kewalahan di atas 50 kreator. Siapkan tools tracking sebelum jumlah partnership kamu membesar.
7. Jalankan Strategi Influencer Marketing Bareng Crepa
Gymshark menjalankan strategi influencer marketing sebagai sistem, mulai dari seleksi kreator, kemitraan jangka panjang, sampai pengukuran. Crepa menerapkan pola pikir serupa lewat layanan Influencer Marketing yang dirancang agar kampanyemu terarah.
Crepa memegang empat prinsip yang menjaga kampanye tetap rapi dari seleksi sampai laporan, jadi tim kamu bisa StressLessEarnMore:
- Appropriate Persona: kreator dipilih berdasarkan kecocokan persona dengan brand dan audiens target, lewat pengecekan niche, kualitas komentar, dan riwayat konten.
- Risk-Skilled Staff: tim berpengalaman yang mengantisipasi risiko seperti konten melenceng dari brief, kreator terlambat, atau isu reputasi.
- Ontime Schedule: jadwal produksi dan tayang dijaga disiplin, sehingga kampanye mendarat tepat di momentum yang direncanakan.
- Brief = Output: brief yang jelas dan terukur menghasilkan konten sesuai ekspektasi, dengan proses revisi yang efisien.
Mau mulai merancang strategi influencer marketing Gymshark versi brand kamu? Klik ikon WhatsApp di pojok kanan bawah, dan Crepanion siap ngobrol bareng kamu.
Simpulan
Strategi influencer marketing Gymshark berhasil karena dijalankan sebagai sistem, mulai dari seeding ke kreator yang tepat sampai kanal penjualan milik sendiri. Pola ini bisa kamu adaptasi ke pasar Indonesia dengan penyesuaian yang relevan.
- Insight penting dari strategi Gymshark: mulai dari seeding ke kreator pengguna produk, rawat hubungan lewat sponsored athlete, bangun komunitas lewat challenge, lalu arahkan hasilnya ke kanal milik sendiri.
- Framework seleksi dan pengelolaan: pilih kreator lewat engagement rate, kualitas komentar, dan kecocokan niche, lalu kelola dengan tangga Seeding, Ambassador, Athlete, kompensasi hybrid, dan tracking rutin.
- Adaptasi untuk brand Indonesia: manfaatkan social commerce, cluster kreator mikro dan KOC, momentum lokal, affiliate platform, serta pilot terukur sebelum scale up.
