Sejauh Crepanion handling digital marketing dari berbagai brand, ada satu hal yang ternyata masih belum banyak disadari klien: untuk meningkatkan trust audiens, kini nggak cuma dari sisi kampanye USP produk aja. Tapi juga soal purpose driven marketing, alias campaign yang membawa nilai-nilai sosial. Kenapa begitu?
Survei Edelman Trust Barometer 2024 nunjukin kalau lebih dari 60% konsumen, memilih brand yang jelas sikap dan kontribusinya pada isu sosial. Angka ini jelas bikin urgensi purpose driven marketing makin nyata, walaupun pada faktanya kualitas produk udah dianggap sama bagusnya.
So untuk itu, di artikel ini kita bakal mengurai purpose driven marketing secara lengkap. Dari definisi, alasan relevansinya, komponen penting, sampai langkah awal yang bisa brand ambil. Yuk, baca terus biar nggak penasaran sama insight-nya.
Apa Itu Purpose Driven Marketing?
Pertama-tama, kita bahas dulu pengertian purpose driven marketing biar Crepanity gak bingung saat memahami bahasan yang lebih dalam. Mengutip McKinsey & Company, purpose driven marketing adalah pendekatan branding yang digerakan sama tujuan sosial jelas.
Intinya, brand nggak cuma jual produk, tapi juga hadir sama nilai yang berpihak pada isu tertentu, lalu mengomunikasikannya secara konsisten. Tentu fokusnya bukan campaign gimmick ya, melainkan bagaimana brand ngambil posisi yang relevan, dipercaya, dan bisa dirasakan manfaatnya sama audiens.
Pendekatan ini penting bagi brand, karena bikin strategi marketing jadi lebih grounded. Setiap aktivitasnya kembali pada tujuan besar brand. Lalu, saat value-nya benar-benar dijalankan, purpose driven marketing bisa memperkuat diferensiasi, menumbuhkan loyalitas, bahkan bikin brand lebih tahan lama di market.
Kenapa Purpose Driven Marketing Makin Relevan?
Berangkat dari definisinya tadi, sekarang masuk ke alasan kenapa pendekatan ini makin krusial buat brand zaman sekarang.
IMD mencatat kalau perubahan perilaku konsumen dan meningkatnya tekanan sosial, itu bikin strategi berbasis purpose jadi penentu relevansi brand modern. Yuk, kita lihat lebih detail alasan-alasannya:
1. Konsumen Makin Selektif
Audiens hari ini punya ekspektasi yang jauh lebih tinggi. Mereka nggak cuma cek kualitas atau harga, tapi juga menilai apakah brand punya nilai jelas, tegas, dan dijalankan konsisten.
Nah, di kondisi inilah, purpose driven marketing membantu brand nunjukin arah yang bikin konsumen merasa keputusan mereka “worth it”.
2. Trust Makin penting daripada Awareness Semata
Kita tahu sendiri, sekarang ruang digital makin bising, dan perlahan audiens makin jago “mengendus” mana brand yang autentik dan mana yang cuma gimmick.
Maka, ketika brand bikin campaign iklan product berdasarkan tujuan yang kredibel, trust jadinya terbentuk lebih cepat. Dan trust ini kemudian muter balik ke loyalitas yang tahan lama, bukan sekadar transaksi sekali hilang.
3. Diferensiasi Nggak Cukup cuma Lewat Fitur
Hampir semua kategori sekarang competitively crowded. Produk bagus udah jadi baseline, bukan lagi nilai jual. Makanya purpose driven marketing ngasih layer diferensiasi yang lebih emosional dan lebih sulit ditiru, karena yang diangkat adalah nilai, komitmen, dan kontribusi brand.
Elemen Penting Purpose Driven Marketiung
Hampir semua kategori sekarang competitively crowded. Produk bagus udah jadi baseline, bukan lagi nilai jual. Makanya purpose driven marketing ngasih layer diferensiasi yang lebih emosional dan lebih sulit ditiru, karena yang diangkat adalah nilai, komitmen, dan kontribusi brand.
1. Authenticity
Authenticity di sini berarti brand konsisten antara apa yang diklaim sebagai ‘purpose’-nya dengan tindakan nyata dalam operasional, produk, dan komunikasi. Jika ada ketidaksesuaian, percaya atau nggak, publik akan mudah mencium “purpose-washing”.
Artinya, purpose bukan cuma slogan,, tapi nilai inti yang dijalankan sehari-hari, dan brand harus transparan soal proses, niat, dan hasilnya.
2. Integration
Menurut riset yang sama, purpose driven marketing yang efektif bukan bagian tambahan di kampanye marketing saja. Purpose harus meresap ke budaya internal, kebijakan perusahaan, produk/layanan, komunikasi, bahkan hingga pengambilan keputusan. Kenapa begitu?
karena dengan begitu, setiap touchpoint mulai dari iklan, kemasan, layanan pelanggan, bisa ngasih sinyal yang konsisten bahwa brand memang benar-benar serius sama purpose-nya.
3. Congruence
Dampak purpose driven marketing bisa maksimal kalau tujuan brand dan isu sosial/lingkungan yang diangkat selaras sama nilai dan keyakinan target konsumen. Kalau ada ketidakcocokan, efektivitas purpose sangat mungkin nge-drop.
Artinya, brand perlu benar-benar paham audiens, juga jangan asal “ikut arus” isu, biar pesan purpose terasa relevan, resonate, dan nggak dipandang sebagai opportunistic.
4. Consistency
Purpose driven marketing bukan formulir kuis sekali lalu selesai. Authenticity + integrasi + congruence harus dijaga terus menerus. Gimana kalau brand tiba-tiba berubah arah atau selip di satu titik?
Yang utama tentu trust audience bisa runtuh. Riset yang sama juga nyebut bahwa budaya organisasi dan kepemimpinan yang mendukung purpose sangat menentukan kelangsungan dan kredibilitas purpose itu.
Relevansinya dengan Sustainable Development
Setelah elemen-elemennya jelas, sekarang masuk ke konteks yang lebih besar: purpose driven marketing akan semakin kuat kalau basisnya pada sustainable development. Kok bisa? Rinciannya sebagai berikut:
1. Purpose sebagai Jembatan ke Agenda SDGs
Menurut United Nations SDGs Framework, keberlanjutan menuntut kontribusi konkret dari sektor bisnis, terutama lewat praktik yang berdampak sosial dan lingkungan.
Di titik ini, purpose driven marketing jadi jembatan yang memastikan pesan brand align sama agenda pembangunan berkelanjutan yang punya target jelas.
2. Mengikat Purpose ke Isu Keberlanjutan yang Relevan
Brand yang mengadopsi sustainable development biasanya mengikat purpose-nya ke isu relevan, entah edukasi, energi bersih, ketimpangan sosial, atau krisis iklim. Pendekatan ini bikin strategi marketing terasa grounded karena setiap kampanye nunjukin kontribusi langsung ke target pembangunan global.
3. Purpose yang Terukur dan Meningkatkan Trust
Integrasi sustainable development juga memperkuat value dari purpose driven marketing, karena audiens melihat brand beroperasi berdasarkan framework yang terukur. Jadi, ketika brand bisa menunjukkan progress terhadap goal tertentu, trust makin tinggi dan kredibilitasnya jadi bukti nyata.
Caar brand Memulai Purpose Driven Marketing
Sekarang lanjut ke hal praktisnya, yaitu cara mulai mengeksekusi purpose driven marketing. Menurut PRLab dalam e-book How to Become a Purpose-Driven Brand, ada beberapa pendekatan strategis yang bisa dijadikan fondasi awal. Berikut di anataranya:
1. Bangun Cerita Lewat Storytelling
PRLab menekankan bahwa storytelling adalah cara paling efektif untuk menghidupkan purpose brand. Alih-alih menjelaskan fitur, brand perlu menampilkan cerita nyata yang menggambarkan dampak purpose tersebut.
Narasi yang kuat bikin audiens memahami “why” tanpa terasa digurui, dan jadi landasan solid untuk purpose driven marketing.
2. Personalisasi Itnerakksi dengan Audiens
Pendekatan personal seperti 1:1 messaging membuat brand lebih dekat dan relevan. PRLab menjelaskan bagaimana Nike menggunakan komunikasi personal untuk membantu audiens mencapai tujuan mereka, bukan sekadar menjual produk. Cara ini efektif untuk menunjukkan bahwa purpose brand benar-benar hadir dalam keseharian audiens.
3. Bangun Komunitas dan Interaksi Sosial
PRLab menyoroti pentingnya menciptakan ruang untuk orang-orang yang punya nilai serupa berkumpul. Komunitas memperkuat pesan purpose karena dampaknya terasa bareng-bareng, bukan individual. Ini bikin brand lebih manusiawi, lebih dekat, dan lebih dipercaya sebagai penggerak isu yang mereka usung.
4. Berdiri Tegas pada Nilai yang Dipegang Brand
PRLab banyak membahas contoh bagaimana brand seperti Patagonia berani mengambil posisi tegas, bahkan ketika risikonya besar secara komersial. Sikap berani ini memperlihatkan kalau purpose bukan gimmick, tapi komitmen yang dihidupi. Poin ini penting untuk menjaga kredibilitas purpose driven marketing dalam jangka panjang.
5. Crepa Bisa bantu biar Purpose-mu Nggak cuma Wacana
Buat brand yang tim marketingnya masih lean atau masih bingung menerapkan purpose driven marketing menjadi eksekusi nyata, Crepa bisa jadi partner yang ngebantu kamu.
Crepa punya layanan social media management yang bisa menerjemahkan purpose menjadi konten yang konsisten, engaging, dan tetap aligned sama value brand. Kamu juga bisa upgrade corporate identity biar purpose-mu terasa kuat secara visual, mulai dari logo, brand system, sampai gaya komunikasi yang bikin brand langsung dikenali.
Kalau butuh arahan purpose yang strategis, Crepa juga siap bantu lewat strategic consultation, workshop, atau training biar tim internal kamu makin confident. Untuk ngobrol lebih lanjut, kamu bisa klik ikon WhatsApp di kanan bawah biar angsung connect sama tim Crepa!
Simpulan
Sekarang kamu pasti udah lihat bahwa strategi ini bukan tren manis yang lewat begitu aja. Purpose jadi fondasi yang bikin brand lebih bernilai, lebih dipercaya, dan lebih tahan menghadapi dinamika pasar yang susah ditebak.
Biar makin kebayang, ini rangkumannya:
- Purpose driven marketing bekerja kalau purpose-nya jelas, autentik, dan dijalankan konsisten dalam keputusan, kampanye, sampai budaya internal brand.
- Relevansinya makin kuat karena publik menuntut kontribusi nyata terhadap isu sosial dan lingkungan, bukan sekadar iklan yang terdengar “baik”.
- Framework sustainable development bantu brand bergerak lebih terukur, terarah, dan punya dampak yang bisa dibuktikan.
- Eksekusinya bisa dimulai dari storytelling, personalisasi, membangun komunitas, sampai keberanian brand berdiri tegak pada nilai yang dipegang.
