Hari ini, bikin konten yang memang bener-bener nyambung sama audiens tuh nggak mudah. Apalagi konteks masyarakat global sekarang makin beragam, dari mulai sisi ekonomi, budaya, gender, sampai usia. Buat mengatasi masalah itu, belakangan banyak marketer memakai strategi inclusive marketing.
Urgensi penggunaan strategi inclusive marketing hari ini amat jelas. Survei Deloitte Global Marketing Trends 2023 aja, nunjukin 57% konsumen lebih milih brand yang komit sama keberagaman dan keterlibatan sosial. Jadi, ya, kalau nggak adaptasi sama strateginya, risiko kehilangan atensi audiens makin gede.
Nah, biar kamu nggak kebingungan gimana nerapin inclusive marketing, artikel ini bakal ngebahasnya lengkap. Mulai dari definisi, urgensi, prinsip kerja, sampai contoh kampanye yang sukses. Santai aja, kita kupas pelan tapi tetap to the point.
Apa Itu Inclusive Marketing & Kenapa Penting untuk Brand Hari Ini
Pertama, kita pahami pengertian inclusive marketing dulu. Mengutip Creative Equals, inclusive marketing adalah strategi pemasaran yang dari ujung ke ujung memperhatikan keberagaman audiens, baik dari segi usia, gender, etnis, bentuk tubuh, kemampuan, maupun latar belakang sosial-ekonomi.
Ketika brand menerapkan inclusive marketing dengan benar, hasilnya bisa memperluas jangkauan audiens, dan bahkan menarik kelompok yang selama ini terabaikan.
Plus, di zaman sekarang publik makin kritis ini, konsumen nggak cuma cari produk atau jasa aja. Mereka cari brand yang ngertiin dan menerima mereka apa adanya. Dan inclusive marketing, membantu brand kamu tampil manusiawi, dipercaya, dan relevan banget di mata mereka.
Kesalahaan Umum Brand dalam Melakukan Inclusive Marketing
Setelah paham konsep dasarnya, sekarang kita perlu lihat sisi yang sering bikin brand keblinger saat menerapkan inclusive marketing. Niatnya sih udah bagus, tapi eksekusinya masih meleset.
Nah, biar kamu nggak ikut terjebak, berikut beberapa kesalahan umum yang sering kejadian:
1. Representasi yang cuma Tempel-Tempelan
Ini kejadian ketika brand cuma naro model beragam di materi visual, tapi narasinya nggak nyambung sama pengalaman mereka.
Misal, pakai model disabilitas tapi nggak ada konteks tentang aksesibilitas produk. jadi kelihatan banget cuma buat “checklist inklusif”.
2. Nyoba Merangkul Semua Orang, tapi Pesannnya jadi Hambar
Karena pengen aman ke semua audiens, pesan akhirnya terlalu generik. Kayak “kami hadir untuk semua”. Tapi tnpa insight spesifik, alias maksud dari hadir untuk semua dalam rangka apa?
Alhasil, kampanyenya jadi nggak punya arah, dan kelompok yang ingin dirangkul juga nggak merasa diajak ngobrol secara personal.
3. Nggak Ngerti Sensitivitas Auudiens
Kadang brand udah pengen nerapin inclusive marketing, tapi salah langkah karena kurang memahami isu sensitif.
Misalnya, pakai istilah yang outdated, atau menggambarkan kelompok tertentu dengan stereotip. Bukannya narik banyak audiens, jadinya malah bikin brand kelihatan kurang empati.
4. Cuma Aktif saat Momen Tertentu
Fenomena “musiman” ini gampang kelihatan. Brand tiba-tiba upload konten keberagaman pas momen besar, tapi sepanjang tahun narasinya sama sekali nggak sejalan. Alhasil, audiens ngerasa itu cuma strategi pencitraan, bukan komitmen jangka panjang.
5. Nggak Melibatkan Suara Internal
Tim marketing kadang bikin kampanye inklusif tanpa ngobrol dengan karyawan yang punya perspektif relevan. Misal karyawan dari kelompok minoritas atau pengguna produk tertentu. Padahal insight mereka bisa nge-bantu menghindari blunder dan bikin pesan lebih autentik.
Prinsip-Prinsip Kunci Inclusive Marketing
Kita mulai masuk ke bagian inti dari inclusive marketing. Setelah ngerti potensi salah langkahnya barusan, sekarang kita bahas prinsip-prinsip kunci inclusive marketing. Mengutip American Marketing Association, setidaknya ada 4 prinsip kunci yang perlu diperhatikan, yakni:
1. Lihat Audiens sebagai Individu, Bukan Stereotip
AMA ngejelasin bahwa setiap orang punya identitas berlapis atau intersectionality yang unik. Jadi prinsip pertama: jangan mikir “satu kelompok = satu karakter”.
Brand perlu riset konteks hidup mereka, bukan cuma ambil gambaran kulit luar. Semakin detail insight-nya, semakin relevan komunikasinya.
2. Prioritaskan Representasi yang Akurat dan Tidak Tokenistik
Di guide-nya dijelasin bahwa representasi efektif itu bukan sekadar nampilin orang beragam, tapi memastikan cerita, visual, dan konteksnya nyambung ke pengalaman nyata audiens.
Makanya, brand harus ngelewatin mindset “asal ada”, dan mulai mikir “apa yang ingin mereka lihat dan rasakan dari brand ini?”.
3. Libatkan Perspektif Beragam Sejak Awal Proses Kreatif
Best practice-nya jelas: inklusi harus hadir dari brainstorming, bukan baru muncul waktu produksi atau revisi akhir. Suara dari tim internal yang beragam, konsultan eksternal, atau target group perlu ikut ngecek konsep. Ini menghindari blindspot dan bikin hasilnya lebih autentik.
4. Gunakan Bahasa yang Empatik dan Menghindari Bias
AM juga menekankan pentingnya inclusive language buat membangun komunikasi yang menghargai audiens, bebas stereotip, dan sesuai perkembangan istilah yang sensitif secara sosial. Karena, bahasa yang tepat bikin pesan brand lebih dipercaya dan terasa manusiawi.
Cara Brand Memulai Inclusive Marketing
Setelah paham prinsip-prinsipnya, sekarang kita masuk ke hal yang paling krusial: gimana brand bisa mulai ngejalanin inclusive marketing secara nyata. Masih mengutip sumber yang sama, berikut cara-caranya:
1. Mulai dari Cek “Kesiapan Internal” Brand
Panduan AMA jelas bilang: inclusive marketing yang efektif harus nyambung sama nilai internal dan inisiatif DEI perusahaan, bukan cuma ide kreatif yang berdiri sendiri.
Brand perlu ngecek dulu: apakah tim internal cukup beragam? Apakah nilainya sudah sejalan? Kalau belum, harus diberesin dulu biar nggak kedengeran performatif.
2. Libatkan Audiens dari Kelompok yang Terdampak
AMA nyaranin brand buat ngajak partisipasi target group dalam proses kreatif, mulai dari riset insight, brainstorming, sampai pre-testing campaign.
Ini bisa lewat focus group, co-creation, atau ngobrol langsung sama komunitas yang ingin diwakili. Tujuannya: hindari asumsi dan cegah salah langkah sensitif.
3. Bentuk Tim Kreatif yang Lebih Beragam
Cara ketiga menerapkan inclusive marketing, pentingnya ngelibatin kreator dari background berbeda, entah sebagai karyawan internal, freelance, atau mitra eksternal. Sudut pandang mereka bantu ngasih filter alami biar campaign nggak kejebak bias.
Bahkan AMA nyaranin kerja sama dengan minority-owned agencies untuk memperkaya perspektif.
4. Evaluasi Visual, Narasi, dan Bahasa Secara Menyeluruh
Dalam guide AMA, ada penekanan kuat pada representasi visual, pemilihan bahasa inklusif, dan menghindari stereotip yang halus sekalipun. Jadi sebelum publish campaign, tim harus ngecek:
- Apakah visualnya menggambarkan keberagaman yang nyata?
- Ada stereotip tersembunyi?
- Apakah bahasanya empatik dan tidak mengecilkan?
5. Lakukan Pre-Testing dengan Kelompok Beragam
Mereka nyaranin pre-testing sebelum campaign tayang, khususnya untuk konten yang menyentuh identitas tertentu. Testing dengan komunitas target ngebantu mendeteksi masalah representasi, potensi misinterpretasi, atau tone yang terlalu “brand-centric” dan kurang peka.
6. Bangun Kebiasaan Evaluasi Keberlanjtuan
Inclusive marketing itu bukan checklist, tapi proses jangka panjang. Dokumen AMA bilang brand perlu terus ngevaluasi hasil campaign, ngumpulin feedback dari audiens beragam, dan update standar internal sesuai perkembangan sosial budaya. Ini yang bikin brand tetap relevan dan credible.
Contoh Kampanye Inclusive Marketing yang Efektif
Biar gambaran kamu makin komplet tentang inclusive marketing, sekarang kita lihat contoh kampanye yang beneran berhasil di lapangan.
1. P&G – “Widen The Screen”
Kampanye ini jadi rujukan karena melibatkan kreator kulit hitam sejak tahap ide sampai produksi. Hasilnya: narasi yang autentik, emosional, dan nyambung ke pengalaman hidup nyata. Ini salah satu benchmark inclusive marketing yang nggak cuma visual doang.
2. Aerie – “#AerieREAL”
Walau bukan campaign baru, Aerie jadi contoh bagaimana inclusive marketing yang konsisten bisa menaikkan brand trust. Mereka menolak retouching, menampilkan berbagai bentuk tubuh, kondisi kulit, dan disabilitas.
Karena konsisten, kampanyenya bukan cuma viral, tapi ngubah persepsi publik terhadap brand.
3. Wardah – “Beauty Moves You”
Wardah beberapa tahun terakhir bergerak ke arah representasi yang lebih luas. Mereka nggak cuma menampilkan perempuan berhijab, tapi juga perempuan dari berbagai profesi, warna kulit, hingga value yang berbeda.
Pendekatannya lebih “empowerment”, bukan sekadar tampil beragam. Kampanye ini mencerminkan inclusive marketing versi brand lokal yang relevan banget.
Simpulan
Nah, sekarang makin kelihatan kan kalau inclusive marketing itu bukan cuma tren estetik, tapi arah baru dunia brand yang pengin lebih manusiawi dan relevan di mata audiens? Biar gampang diinget, ini highlight penting yang udah kita bahas bareng tadi:
- Tantangan utamanya ada di gimana brand bisa inklusif tanpa jatuh ke tokenisme atau “sekadar tempelan”.
- Prinsip kuncinya mulai dari riset mendalam, representasi autentik, bahasa yang empatik, sampai komitmen jangka panjang.
- Cara prakteknya harus sistematis: siapin internal team, libatkan perspektif beragam, cek sensitivitas, dan pre-testing sebelum kampanye rilis.
- Inclusive marketing yang berhasil selalu nunjukin cerita manusia yang real—yang bikin audiens ngerasa dilihat dan dihargai.
Nah, kalau brand kamu lagi butuh partner digital marketing yang bisa ngebantu ngeracik narasi inklusif, hangat, dan relevan buat audience yang makin beragam, Crepanion jelas bisa jadi jawabannya.
Di Crepa, kita mikirin relevansi jangka panjang buat brand kamu. Mulai dari social media management, crowdsourcing, sampai influencer marketing, corporate identity, sampai strategic consultation, semuanya kita kemas biar nyambung sama arah besar inclusive marketing hari ini.
Jadi gimana, Crepanity? Siap scale-up bareng Crepanion dan bikin brand kamu makin dekat sama orang yang kamu tuju? Klik ikon WhatsApp di pojok kanan bawah, and let’s talk strategy!
