Kita akui atau nggak, di banyak ruang kerja hari ini, kesetaraan gender di dunia kerja agak-agaknya masih sering diposisikan sebagai topik “nice to have”, bukan kebutuhan bisnis. Padahal, bias gender yang terus dibiarkan ini bisa berujung jadi bumerang buat bisnis. Lho, kok bisa?
Ini bukan asumsi kosong ya, Crepanity. Laporan riset dari McKinsey, nunjukin kalau perusahaan dengan keberagaman gender, itu cenderung punya performa finansial dan inovasi yang lebih konsisten. Bahkan ketika representasi tertinggal, risiko stagnasi dan distrust internal justru meningkat.
Buat tahu lebih lanjut kenapa kesetaraan gender di dunia kerja sebegitu urgennya, artikel ini akan ngebahas secara lengkap dari sisi manfaat bisnisnya, tantangan yang sering muncul, cara praktik yang realistis, hingga studi kasus biar kamu bisa ngambil keputusan yang lebih relevan dan berkelanjutan.
Mengapa Kesetaraan Gender di Dunia Kerja Begitu Penting?
Pertama-tama, biar nggak penasaran kenapa kesetaraan gender di dunia kerja penting, kita akan kulik: memang sepenting apa dampaknya buat operasional dan growth bisnis?
Mengutip Business Victoria, ada lima manfaat utama yang bisa dirasakan langsung, mulai dari profitabilitas, inovasi, daya tarik talenta, retensi karyawan, hingga reputasi brand. Berikut rinciannya:
1. Meningkatkan Profitabilitas Bisnis
Pertama, kesetaraan gender di dunia kerja berkontribusi langsung ke performa finansial. Kenapa? Karena keputusan bisnis jadi nggak lagi datang dari satu sudut pandang aja. Tim dengan keseimbangan gender, itu cenderung lebih akurat membaca risiko dan peluang, sehingga strategi yang diambil lebih sustain.
Business Victoria juga mencatat kalau banyak bisnis melewatkan potensi peningkatan profit hingga 2,1% karena stagnasi representasi gender di level senior. Artinya, ketika akses kepemimpinan nggaksetara, bisnis bukan hanya kehilangan fairness, tapi juga real money. Iya, kan?
2. Mendorong Inovasi yang Relevan
Inovasi di sini bukan sekadar soal produk baru ya, tapi juga tentang cara kerja yang lebih adaptif. Nah, kesetaraan gender di dunia kerja, membuka ruang diskusi yang lebih kaya karena pengalaman hidup tiap individu berbeda, dan itu memengaruhi cara mereka ngelihat masalah.
Lebih jauh lagi, tim yang inklusif biasanya lebih berani challenge status quo tanpa jatuh ke bias internal. Dan, dari sinilah lahir ide-ide praktis, workflow yang lebih efisien, sampai solusi kreatif yang genuinely relevan sama kebutuhan pasar.
3. Menarik Talenta yang Lebih Berkualitas
Generasi profesional sekarang makin selektif milih tempat kerja. Dan salah satu indikator yang mereka pilih, ada kesetaraan gender di dunia kerja. Karena dia bisa dibilang baseline expectation.
Lingkungan kerja kayak gitu penting, karena ngasih sinyal bahwa setiap orang itu punya peluang buat berkembang. Dampaknya, bisnis jadi lebih mudah menarik talenta potensial yang bukan cuma skillful, tapi juga aligned secara value dan mindset.
4. Mempertahankan Karyawan Lebih Lama
Kini, retensi karyawan di sebuah perusahaan bukan cuma soal gaji, tapi kebutuhan rasa buat dihargai. Nah, kesetaraan gender di dunia kerja bisa jadi dasar perusahaan buat peduli sama perspektif dan kontribusi semua individu, tanpa bias struktural yang bikin frustrasi diam-diam.
Lalu, ketika karyawan bertahan, bisnis pun menutup peluang biaya besar akibat turnover. Mulai dari hilangnya pengetahuan, turunnya produktivitas, sampai cost rekrutmen ulang yang bisa mencapai hampir dua kali gaji tahunan.
5. Meningkatkan Reputasi Bisnis dan Brand Trust
Terakhir, brand yang mencerminkan audiensnya akan lebih mudah dipercaya. Dalam hal ini, kesetaraan gender di dunia kerja bisa ngebantu bisnis bangun citra yang relevan, terutama karena perempuan punya pengaruh besar dalam keputusan pembelian lintas industri.
Apalagi di era media sosial, reputasi perusahaan sangat transparan. Kebijakan yang setara mengurangi risiko konflik internal, memperkuat employer branding, dan membangun loyalitas pelanggan yang melihat bisnis kamu sebagai brand yang credible dan forward-thinking.
Tantangan Kesetaraan Gender di Dunia Kerja
Kalau manfaatnya sudah jelas, sekarang kita lihat apa aja tantangan ketika menerapkan kesetaraan gender di dunia kerja.
Laporan Equality at Work: Tackling the Challenges dari International Labour Conference, nunjukkin bahwa hambatan kesetaraan sering tersembunyi di sistem dan kebiasaan kerja sehari-hari.
1. Diskriminasi yang Gak Kelihatan, tapi Kerasa
Menurut International Labour Conference, diskriminasi di tempat kerja jarang muncul dalam bentuk ekstrem. Justru yang paling sering terjadi adalah bias yang halus, tertanam di aturan, kebiasaan, dan cara ambil keputusan yang dianggap “normal”.
Dalam praktik kesetaraan gender di dunia kerja, ini kelihatan, misalnya, dari promosi yang jalurnya nggak transparan, pembagian peran yang itu-itu aja, atau standar kepemimpinan yang tanpa sadar condong ke satu gender. Karena nggak eksplisit, masalah ini biasanya sering kelewat dievaluasi.
2. Aturan Ada, tapi Eksekusinya Setengah Jalan
ILO JUGA mencatat banyak organisasi sebenarnya udah punya kebijakan anti-diskriminasi. Nah, masalahnya, implementasinya sering nggak konsisten. Kebijakannya sih ditulis rapi, tapi nggak dihidupkan benar-benar dalam proses kerja harian.
Di konteks kesetaraan gender di dunia kerja, ini biasanya berhenti di handbook atau slide onboarding. Tanpa KPI yang jelas, monitoring rutin, dan komitmen pimpinan. Alhasil, kebijakan jadi simbolik aja, bukan alat perubahan.
3. Beban ganda yang Masih Dianggap Urusan Personal
International Labour Conference menyoroti satu realita penting: perempuan masih menanggung beban tanggung jawab keluarga yang lebih besar. Dampaknya langsung terasa ke akses kerja penuh waktu, proyek strategis, dan posisi kepemimpinan.
So, poinnya, kalau kesetaraan gender di dunia kerja cuma bicara kesempatan tanpa melihat konteks hidup nyata karyawan, hasilnya bisa timpang. Karena nggak ada fleksibilitas dan sistem pendukung, peluang yang katanya setara jadi tetap sulit dijangkau.
4. Anggapan bahwa Kesetaraan Gender Itu Costly
Salah satu hambatan klasik menurut ILO adalah mindset kalau mendorong kesetaraan gender butuh biaya besar, sementara return-nya nggak instan. Gara-gara itu, inisiatif ini gampang dipangkas saat bisnis lagi fokus efisiensi.
Padahal dalam kesetaraan gender di dunia kerja, biaya tersembunyi justru muncul dari turnover tinggi, engagement rendah, dan keputusan yang kurang beragam perspektif. Sayangnya, ini sering baru disadari belakangan.
5. Budaya Kerja Nggak Bisa Dipaksa Cepat Tumbuh
ILO melihat diskriminasi sebagai sesuatu yang terus berevolusi. Artinya, kesetaraan gender di dunia kerja bukan proyek sekali jalan atau campaign musiman, tapi proses panjang yang butuh konsistensi.
Budaya kerja berubah lewat praktik harian: siapa yang didengar, siapa yang dipercaya ambil keputusan, dan siapa yang dikasih ruang berkembang. Banyak bisnis menyerah di tengah jalan karena dampaknya nggak langsung kelihatan.
Cara Mewujudkan Kesetaraan Gender di Dunia Kerja
Setelah paham tantangannya, sekarang masuk ke bagian yang paling actionable: gimana kesetaraan gender di dunia kerja bisa benar-benar dijalankan?
Australian Government melalui Workplace Gender Equality Agency (WGEA) menekankan beberapa hal yang bisa dilakukan, yakni:
1. Mulai dari Data, Bukan Asumsi
WGEA menekankan pentingnya mengumpulkan dan membaca data internal sebelum bicara solusi. Data soal komposisi gender, pay gap, promosi, sampai turnover bikin perusahaan tahu masalahnya ada di mana, bukan sekadar feeling.
2. Transparanasi Soal Gaji dan Jenjang Karier
Setelah itu, australian Government juga mendorong transparansi dalam struktur gaji dan promosi. Ketika aturan mainnya jelas, risiko bias tersembunyi ikut turun, dan karyawan tahu apa yang perlu dicapai untuk berkembang.
Praktik ini bikin kesetaraan gender di dunia kerja terasa nyata. Karena karyawan merasa sistemnya fair, bukan tergantung kedekatan atau persepsi subjektif atasan semata.
3. Fleksibilitas Kerja yang Benar-benar Dipakai
Menurut WGEA, fleksibilitas kerja harus jadi budaya, bukan privilege. Jam kerja fleksibel, remote working, atau hybrid perlu diposisikan sebagai cara kerja normal, bukan pengecualian yang bikin sungkan.
Dalam praktik kesetaraan gender di dunia kerja, fleksibilitas membuka akses yang lebih adil, terutama bagi karyawan dengan tanggung jawab di luar kantor, tanpa mengorbankan performa tim.
4. Pemimpin yang Aktif Jadi Role Model
Australian Government menyoroti peran penting pimpinan dalam mendorong kesetaraan. Bukan cuma menyetujui kebijakan, tapi aktif mempraktikkannya lewat keputusan sehari-hari dan cara mereka membangun tim.
Karena kesetaraan gender di dunia kerja lebih cepat jalan ketika leader menunjukkan komitmen nyata. Dari siapa yang dipromosikan, siapa yang dilibatkan diskusi, sampai siapa yang diberi kepercayaan ambil keputusan.
5. Evaluasi dan Perbaikan yang Berkelanjutan
WGEA menekankan bahwa kesetaraan gender bukan target sekali capai. Evaluasi perlu dilakukan rutin, karena dinamika tim dan bisnis terus berubah seiring waktu.
Dengan pendekatan ini, kesetaraan gender di dunia kerja jadi proses yang hidup. Bisnis bisa terus belajar, menyesuaikan strategi, dan tetap relevan tanpa harus mulai dari nol setiap tahun.
Studi Kasus Penerapan Kesetaraan Gender di Dunia Kerja di Indonesia
Biar diskusinya nggak berhenti di konsep, dua studi kasus ini nunjukkin bagaimana kesetaraan gender di dunia kerja bisa dijalankan secara praktis di perusahaan Indonesia, bahkan di industri yang secara tradisional didominasi laki-laki.
1. PT Vale Indonesia & PT Adis Dimension Footwear
Context:
Kedua perusahaan melihat masalah klasik: jumlah perempuan di level manajerial dan kepemimpinan senior masih minim. Bukan karena kurang talenta, tapi karena akses ke exposure strategis dan pengambil keputusan masih terbatas.
Apa yang dilakukan:
Mereka menerapkan sponsorship program, bukan sekadar mentoring. Pemimpin senior berperan aktif sebagai sponsor yang membuka akses ke proyek penting, forum strategis, dan proses pengambilan keputusan bagi talenta perempuan berpotensi tinggi.
Result:
Pendekatan ini memperkuat pipeline kepemimpinan perempuan dan meningkatkan visibilitas mereka di organisasi. Kesetaraan gender di dunia kerja jadi lebih konkret karena perempuan tidak hanya “dibina”, tapi benar-benar didorong naik ke level strategis.
2. Tira Austenite Indonesia
Context:
Sebagai perusahaan di industri baja dan energi, Tira Austenite Indonesia beroperasi di lingkungan kerja yang sangat maskulin. Representasi perempuan di level manajemen tergolong rendah, dan isu kesetaraan belum jadi prioritas strategis sebelumnya.
Apa yang dilakukan:
Perusahaan memulai dari data: memetakan komposisi gender, lalu merancang kebijakan HR yang lebih netral gender. Mereka juga mengembangkan program penguatan kepemimpinan bagi perempuan dan memonitor progresnya secara berkala.
Result:
Dalam waktu relatif singkat, representasi perempuan di level manajemen meningkat signifikan. Lebih dari itu, cara pandang internal terhadap kepemimpinan ikut bergeser. Kesetaraan gender di dunia kerja mulai dipahami sebagai enabler bisnis, bukan sekadar agenda sosial.
Simpulan
Nah, sekarang makin kebaca kan kalau kesetaraan gender di dunia kerja itu bukan utopia atau isu “HR doang”, tapi strategi bisnis jangka panjang yang berdampak ke performa, budaya, sampai reputasi brand? Supaya gampang diingat, ini poin penting yang sudah kita breakdown bareng:
- Tantangan terbesarnya bukan di kurangnya niat, tapi di bias struktural, eksekusi setengah jalan, dan budaya kerja yang belum siap berubah.
- Manfaatnya jelas dan konkret, mulai dari profitabilitas, inovasi, daya tarik talenta, sampai retensi dan reputasi bisnis.
- Praktik terbaiknya harus sistematis: berbasis data, transparan, fleksibel, dan didorong langsung oleh leadership.
- Studi kasus di Indonesia membuktikan bahwa kesetaraan gender di dunia kerja bisa dijalankan lintas industri, asal konsisten dan relevan dengan konteks bisnis.
Dan ya, Crepa juga mengangkat nilai kesetaraan gender sebagai bagian dari cara kami bekerja dan berpikir. Karena kami percaya, brand yang kuat hari ini adalah brand yang paham manusia di balik angka dan campaign.
Di Crepa, kami bantu brand merancang strategi komunikasi dan marketing yang lebih relevan, inklusif, dan berkelanjutan. Mulai dari social media management, influencer marketing, semuanya kami bangun dengan perspektif jangka panjang dan real insight audiens.
Jadi gimana, Crepanity? Siap scale-up bareng Crepanion dan bikin brand kamu tumbuh dengan strategi yang lebih adil, relevan, dan future-ready? Klik ikon WhatsApp di pojok kanan bawah, dan let’s talk strategy.
