Ada satu masalah besar, tapi jarang brand FMCG pedulikan di dalam bisnisnya: nggak benar-benar “memiliki” pelanggannya sendiri. Maksudnya, konsumen ada di retailer, insight pembelian ada di sistem distributor, tapi brand cuma dapat laporan angka penjualan tanpa tahu siapa yang beli. Ini ironis, karena bisa jadi celah yang dieksploitasi kompetitor lewat strategi direct-to-consumer.
Celah itu ternyata bernilai sangat besar. Pasar DTC global diproyeksikan tumbuh dari sekitar $225,5 miliar pada 2024 menjadi $880,1 miliar pada 2034. Artinya brand-brand yang masih 100% bergantung pada jalur distribusi konvensional lagi berhadapan dengan window of opportunity yang makin sempit.
Tapi tentu saja, transisi ke model ini nggak semudah membalikkan telapak tangan. Ada banyak hal yang perlu dipetakan sebelum bisa jalankan strategi direct-to-consumer secara serius. Di artikel ini, kita akan bahas tuntas mulai dari apa itu DTC, sampai contoh brand lokal Indonesia yang sudah berhasil buktikannya.
Apa itu Direct-to-Consumer (DTC)?
Kita pertanyaan dasarnya dulu: sebenernya apa sih DTC itu?
Menurut Shopify, strategi direct-to-consumer adalah model retail di mana brand menjual langsung ke end customer, biasanya secara online, tanpa perantara pihak ketiga. Simpelnya, alur yang tadinya: brand > distributor > retailer > konsumen, dipangkas jadi: brand > iklan/website > konsumen.
Kalau Shopify lebih menyoroti sisi channel-nya, Retail Dogma mendefinisikan lebih dalam dari sisi struktural bisnis. Strategi direct-to-consumer adalah pendekatan distribusi di mana brand owner atau manufacturer menjual langsung ke end consumer dengan melewati wholesaler dan retailer di value chain.
Berdasar dua definisi di atas, strategi direct-to-consumer pada dasarnya adalah keputusan brand untuk tidak lagi “titip jual” ke pihak lain, dan mulai membangun saluran distribusi serta relasi konsumen secara mandiri. Buat brand FMCG, ini adalah soal siapa yang akhirnya “memiliki” data, narasi brand, dan loyalitas konsumen itu sendiri.
Mengapa Strategi DTC Jadi Masa Depan Brand Besar?
Setelah paham apa itu DTC, pertanyaan yang wajar muncul berikutnya adalah: kenapa sekarang? Kenapa model ini mulai diadopsi brand-brand besar yang selama puluhan tahun fine-fine aja pakai jalur distribusi konvensional?
Jawabannya nggak sesederhana “karena digitalisasi”. Ada beberapa alasan konkret kenapa strategi direct-to-consumer bukan sekadar tren sesaat, berikut di antaranya:
1. Brand akhirnya punya data pelanggan sendiri
Ini seperti yang udah Crepanion singgung di awal. Selama brand jual lewat retailer atau distributor, data transaksi konsumen itu milik mereka, bukan milik brand. Brand cuma dapat sell-out report, bukan profil perilaku konsumen yang sesungguhnya.
Nah, dengan strategi direct-to-consumer, brand bisa mengumpulkan first-party data secara langsung: siapa yang beli, seberapa sering, produk apa yang sering dikombinasikan, dan di titik mana konsumen paling sering drop off. Data ini yang kemudian jadi bahan bakar buat personalisasi campaign, pengembangan produk, hingga retensi pelanggan jangka panjang.
2. Margin keuntungan yang jauh lebih sehat
Setiap kali produk melewati distributor dan retailer, ada potongan margin di setiap lapis. Buat brand FMCG yang produknya sudah tipis margin-nya karena volume play, ini lumayan terasa.
Maka dengan strategi direct-to-consumer, brand nggak perlu lagituh menjual produk ke retailer dengan harga diskon besar. Seluruh margin itu kembali ke brand, dan bisa diinvestasikan kembali ke inovasi produk, pengembangan teknologi, atau aktivasi marketing yang lebih tajam.
Lebih dari itu, brand juga punya kontrol penuh atas strategi pricing. Mau A/B test harga, launch bundle offer, atau kasih loyalty reward? Semua bisa dilakukan tanpa harus minta approval dari pihak retailer terlebih dahulu.
3. Kontrol penuh atas brand experience
Di shelf minimarket atau supermarket, produk kamu berjejer berdampingan dengan kompetitor. Konsumen memilih berdasarkan apa yang tampak di depan mata, bukan berdasarkan narasi brand yang sudah dibangun selama bertahun-tahun.
Nah, strategi direct-to-consumer membalik situasi ini. Dengan memiliki seluruh funnel dari klik pertama hingga post-purchase follow-up, brand bisa menyampaikan narasi yang konsisten, membangun diferensiasi yang nyata, dan mendorong brand advocacy lewat loyalty program maupun komunitas.
4. Kecepatan inovasi produk yang jauh lebih tinggi
Di model distribusi konvensional, siklus feedback produk itu cukup panjang. Brand launch, tunggu sell-out data dari retailer, baru tahu apakah produk diterima pasar atau nggak. Prosesnya bisa butuh berbulan-bulan sebelum keputusan bisa diambil.
Tapi kalau dalam model DTC, brand bisa langsung mendengar feedback dari konsumen, menggunakan data penjualan real-time, dan dengan cepat melakukan iterasi produk berdasarkan apa yang benar-benar diinginkan pasar.
Hasilnya: product cycle lebih pendek, risiko overproduction lebih rendah, dan relevansi produk terhadap kebutuhan konsumen lebih terjaga.
5. Loyalitas konsumen yang dibangun langsung oleh brand
Loyalitas konsumen yang dibangun di atas platform retailer itu rapuh. Konsumen loyal ke “harga promo Indomaret”-nya, bukan ke brand-nya. Begitu promo selesai atau ada kompetitor yang masuk dengan harga lebih murah, konsumen bisa pergi tanpa berpikir dua kali.
Dengan strategi direct-to-consumer, brand bisa membangun loyalty ecosystem sendiri: program poin, subscription model, exclusive member offer, hingga komunitas brand yang aktif.
Semua channel ini, mulai dari website, mobile app, social platform, sampai pop-up store, bekerja bersama untuk menghasilkan customer insight sekaligus mempererat hubungan antara brand dan konsumen.
Tantangan Implementasi DTC untuk Brand FMCG
Kalau tadi kita ngomongin kenapa DTC itu menarik, sekarang kita perlu jujur soal kenapa banyak brand FMCG besar masih ragu, bahkan setelah tahu semua keuntungannya. Karena tantangannya nyata, dan nggak bisa disederhanakan.
Berikut beberapa tantangan paling konkret yang dihadapi brand FMCG ketika mencoba menjalankan strategi direct-to-consumer:
1. Infrastruktur logistik yang belum siap untuk skala kecil
Brand FMCG pada dasarnya dibangun untuk scale besar: produksi masif, pengiriman dalam palet ke gudang distributor, bukan kirim satu-dua produk ke rumah konsumen. FMCG secara struktural didesain untuk unggul dalam produksi, manufaktur, dan marketing, bukan dalam pengiriman produk langsung ke tangan konsumen akhir.
Konsumen sekarang expect pengiriman yang cepat dan gratis, sementara banyak brand FMCG belum punya setup logistik yang memadai untuk deliver produk dalam jumlah kecil ke individu. Bangun infrastruktur ini dari nol butuh investasi besar di fulfillment center, sistem tracking, dan last-mile delivery partner yang reliable.
Solusi jangka pendeknya memang bisa pakai fulfillment pihak ketiga seperti 3PL. Tapi jangka panjang, brand tetap perlu membangun kapabilitas logistik sendiri kalau mau strategi direct-to-consumer ini benar-benar scalable dan profitable.
2. Produk yang tidak dirancang untuk dijual online
Ini tantangan yang sering luput dari radar. Brand FMCG umumnya menjual produk yang dirancang untuk tampil di rak toko, bukan untuk dikirim secara online. Packaging yang menarik di shelf tidak selalu survive dalam proses pengiriman, dan biaya packaging ulang serta ongkos kirim bisa langsung menggerus margin yang sudah tipis.
Artinya, brand perlu rethink packaging secara fundamental saat masuk ke DTC. Bukan sekadar menambahkan label “available onlin”, tapi benar-benar redesign packaging yang aman untuk dikirim, tetap on-brand, dan nggak bikin biaya logistik meledak.
3. Risiko konflik dengan mitra retailer
Ini tantangan yang sifatnya politis dan sering underestimated. Brand yang sudah punya hubungan panjang dengan supermarket dan distributor besar berisiko menghadapi resistensi ketika mulai membangun kanal DTC, karena retailer bisa menganggap ini sebagai ancaman dan merespons dengan mengurangi alokasi shelf space untuk brand tersebut.
Ini dilemanya memang. Terutama buat brand FMCG besar yang sebagian besar revenuenya masih datang dari jalur konvensional. Langkah terbaik biasanya bukan “all-in DTC sekarang”, tapi desain strategi direct-to-consumer yang complementary, bukan kompetitif, terhadap kanal distribusi yang sudah ada.
4. Kebutuhan kapabilitas digital yang seringkali belum dimiliki
Langkah paling berat bagi banyak brand FMCG yang ingin masuk DTC adalah membangun platform e-commerce beserta infrastruktur data analytics dan data storage yang menyertainya.
Brand butuh tim yang capable di area seperti CRM, marketing automation, SEO, conversion rate optimization, dan data engineering. Semua ini adalah kapabilitas yang biasanya nggak ada di struktur organisasi brand FMCG yang selama ini bergerak lewat jalur distribusi tradisional.
Artinya, transisi ke DTC hampir selalu diikuti oleh kebutuhan untuk hiring atau upskilling tim, atau minimal, bermitra dengan agency yang benar-benar paham ekosistem digital end-to-end.
5. Customer acquisition cost yang jauh lebih tinggi
Di model konvensional, brand FMCG “numpang” traffic dari retailer. Konsumen datang ke supermarket, lihat produk di rak, beli. Brand nggak perlu bayar untuk mendatangkan mereka. Di model DTC, semua itu jadi tanggung jawab brand sendiri.
Brand DTC nggak bisa mengandalkan distribusi pihak ketiga, sehingga mereka harus berinvestasi besar di sales dan marketing untuk membangun customer base-nya secara mandiri. Di fase awal pertumbuhan, ini bisa jadi beban yang cukup signifikan sama profitabilitas.
Customer acquisition cost yang tinggi ini bisa diimbangi dengan lifetime value konsumen yang lebih tinggi lewat loyalty program dan subscription model. Tapi tentu, itu butuh waktu dan konsistensi, bukan sesuatu yang langsung terasa di bulan pertama.
Langkah Memulai Strategi DTC bagi Perusahaan FMCG
Nah, kalau tadi kita udah ngobrol soal tantangannya, sekarang yang lebih penting: gimana caranya mulai menjalankan strategi direct-to-consumer? Ini langkah-langkahnya, dari yang paling foundational sampai ke scaling:
1. Audit kesiapan internal dulu sebelum kemana-mana
Sebelum mikirin platform atau channel, brand perlu jujur dulu soal kondisi internal. Langkah awal ini idealnya butuh waktu 1 sampai 3 bulan tergantung seberapa matang kesiapan digital brand saat ini, dan mencakup penetapan kebutuhan front-end, marketing, serta back-end yang dibutuhkan agar DTC bisa berjalan.
Yang perlu diaudit: apakah tim internal punya kapabilitas digital yang cukup, apakah infrastruktur data sudah ada, dan seberapa besar ketergantungan revenue saat ini ke jalur distribusi konvensional.
Dari sini, brand bisa tahu apakah DTC mau dijalankan sebagai channel utama atau sebagai pilot project dulu.
2. Pilih produk yang paling cocok untuk DTC, jangan langsung semua lini
Nggak semua produk FMCG siap untuk langsung dijual DTC. Produk berukuran kecil yang dipakai dan dibeli ulang secara rutin punya posisi paling ideal untuk masuk ke strategi direct-to-consuumer, karena ukurannya efisien untuk dikirim dan frekuensi pembeliannya mendukung unit economics yang sehat.
Pilih satu atau dua SKU yang paling loyal di base konsumen yang ada, yang punya margin cukup untuk menanggung biaya logistik, dan yang packaging-nya bisa dengan mudah di-redesign untuk pengiriman. Jadikan ini sebagai MVP-nya strategi direct-to-consumer brand kamu.
3. Bangun ekosistem data sebelum mikirin paid ads
Ini yang paling sering dibalik urutannya. Brand langsung bakar budget ke Meta Ads atau TikTok Ads, tapi belum punya infrastruktur buat menangkap dan mengolah data yang masuk.
Data konsumen bisa dikumpulkan dari berbagai sumber seperti website, aplikasi, social media, SEO, dan transaksi untuk membangun gambaran utuh tentang konsumen, yang kemudian bisa digunakan untuk membentuk segmentasi dan mengevaluasi efektivitas campaign per channel.
Jadi, pastikan dulu CRM-nya terpasang, pixel tracking-nya berjalan, dan dashboard analytics-nya bisa dibaca oleh tim. Baru setelah itu, paid acquisition makes sense untuk dijalankan secara serius.
4. Desain strategi yang nggak konflik dengan retailer yang udah ada
Brand bisa memposisikan kanal DTC sebagai testing ground buat produk dan pengalaman baru, sehingga retailer melihatnya sebagai sesuatu yang menguntungkan mereka juga, bukan sebagai ancaman kompetitif.
Cara konkretnya: buat SKU atau bundle eksklusif yang hanya tersedia di kanal DTC, jaga konsistensi harga agar nggak undercut retailer, dan komunikasikan ke mitra retailer bahwa strategi direct-to-consumer yang dijalankan justru akan memperkuat brand awareness yang pada akhirnya menguntungkan semua channel.
5. Bangun tim khusus DTC yang punya mandat jelas
DTC nggak bisa dijalankan sambil lalu sama tim marketing yang sudah full kapasitas ngurusin trade marketing dan campaign konvensional. Frito-Lay, misalnya, menempatkan 20 karyawan khusus di tim pengembangan DTC saat pertama kali memulai, dan tim itu terus berkembang seiring pertumbuhan kanal tersebut.
Tim ini idealnya terdiri dari orang-orang yang paham e-commerce, digital performance marketing, CRM, dan data analytics. Nggak harus besar di awal, tapi harus punya mandat yang jelas dan akses langsung ke decision maker, supaya bisa bergerak cepat tanpa terlalu banyak birokrasi internal
6. Tetapkan KPI yang spesifik dan ukur dari hari pertama
Banyak brand DTC yang ambruk karena nggak punya framework pengukuran yang jelas sejak awal. KPI yang solid membantu organisasi menentukan inisiatif DTC berikutnya dan mengidentifikasi area spesifik yang perlu diperbaiki.
KPI yang relevan buat DTC FMCG antara lain: customer acquisition cost (CAC), customer lifetime value (CLV), repeat purchase rate, cart abandonment rate, dan contribution margin per order.
Tanpa angka-angka ini yang dipantau secara konsisten, brand nggak akan tahu apakah strategi direct-to-consumer yang dijalankan worth it atau perlu diadjust.
7. Satu hal yang perlu dipertimbangkan
Nah, kalau kamu lagi di posisi brand manager atau marketing lead yang mulai serius mempertimbangkan DTC, ada satu hal yang perlu disadari lebih awal: membangun kanal langsung ke konsumen itu butuh ekosistem konten dan engagement yang konsisten, bukan cuma platform-nya saja.
Di sinilah Social Media Management dan Live Shopping jadi dua pilar yang nggak bisa diabaikan. Social media adalah titik pertama di mana konsumen mengenal brand kamu secara langsung tanpa filter retailer. Sementara live shopping adalah salah satu format DTC paling powerful saat ini karena menggabungkan storytelling, product demo, dan konversi dalam satu sesi real-time.
Kalau kamu butuh partner yang bisa bantu brand kamu mulai membangun ekosistem DTC-nya dari sisi konten dan channel digital, Crepa siap diskusi lebih lanjut. Klik ikon WhatsApp di pojok kanan bawah, dan kita ngobrol langsung soal kebutuhan brand kamu.
Contoh D2C di Indonesia yang Sukses
Semua yang udah kita bahas sejauh ini, dari konsep, keuntungan, tantangan, sampai langkah mulainya, bakal terasa lebih nyata kalau kita lihat langsung bagaimana brand lokal Indonesia udah jalanin strategi direct-to-consumer ini dalam skala yang serius.
Satu nama yang paling relevan buat dijadiin referensi adalah Scarlett Whitening.
Scarlett Whitening: dari Instagram ke empire skincare lokal
Scarlett Whitening didirikan pada 2017 oleh Felicya Angelista, artis yang sebelumnya udah punya brand perawatan wajah bernama Feli Skin.
Awalnya sederhana: produk dijual online, dipromosikan lewat media sosial sang founder sendiri. Tapi dari situlah pondasi DTC Scarlett dibangun, langsung dari tangan founder ke konsumen, tanpa jalur distribusi konvensional di awal.
Yang menarik dari perjalanan Scarlett adalah soal gimana mereka membangun saluran komunikasi langsung ke konsumen sebelum skala bisnisnya besar.
Pada Agustus 2021, Scarlett memimpin pasar produk perawatan di Shopee dan Tokopedia dengan market share terbesar sebesar 18,9%. Ini pencapaian yang nggak bisa dilepaskan dari strategi DTC mereka yang konsisten sejak hari pertama.
Ekosistem Digital Scarlett
Scarlett juga nggak cuma andalkan satu channel. Mereka membangun ekosistem digital yang cukup komprehensif: mulai dari kolaborasi dengan influencer dan brand ambassador, kehadiran aktif di berbagai marketplace, sampai kampanye promosi seperti flash sale dan bundling produk.
Yang bisa dipelajari dari Scarlett sebagai implementasi strategi direct-to-consumer adalah keberanian mereka membangun relasi konsumen dari channel digital terlebih dulu, lama sebelum produknya masuk ke rak supermarket.
Omset bulanan Scarlett dikabarkan mencapai miliaran rupiah sejak awal peluncurannya, dan kini produknya sudah mudah ditemukan di berbagai supermarket. Ini contoh klasik DTC yang berhasil: mulai dari digital, bangun loyalitas, baru scale ke offline.
Simpulan
Itulah pembahasan lengkap soal strategi direct-to-consumer untuk brand FMCG, dari definisi, sampai langkah konkret buat mulai. Biar nggak ada yang kelewat, berikut Crepanion rangkum poin-poin pentingnya:
- DTC adalah model di mana brand jual langsung ke konsumen tanpa perantara, yang artinya brand punya kontrol penuh atas data, harga, pengalaman, dan loyalitas konsumen itu sendiri.
- Strategi direct-to-consumer jadi masa depan brand besar karena menawarkan first-party data yang solid, margin lebih sehat, kecepatan inovasi produk yang lebih tinggi, dan loyalitas konsumen yang dibangun langsung oleh brand tanpa bergantung pada shelf space retailer.
- Tantangan implementasinya nyata dan nggak bisa disepelekan, mulai dari infrastruktur logistik yang belum siap, packaging yang perlu di-redesign, risiko konflik dengan mitra retailer, kapabilitas digital yang kurang, sampai customer acquisition cost yang jauh lebih tinggi dibanding model konvensional.
- Langkah memulainya harus runtut dan terukur: audit kesiapan internal dulu, pilih SKU yang paling cocok sebagai MVP, bangun ekosistem data sebelum bakar budget ads, desain strategi yang nggak konflik dengan retailer, bentuk tim khusus DTC dengan mandat yang jelas, dan tetapkan KPI dari hari pertama.
Nah, kalau kamu lagi di posisi brand manager atau marketing lead yang mulai serius mempertimbangkan DTC, ada satu hal yang perlu disadari lebih awal: membangun kanal langsung ke konsumen itu butuh ekosistem konten dan engagement yang konsisten, bukan cuma platform-nya saja.
Di sinilah Social Media Management dan Live Shopping jadi dua pilar yang nggak bisa diabaikan. Social media adalah titik pertama di mana konsumen mengenal brand kamu secara langsung tanpa filter retailer. Sementara live shopping adalah salah satu format DTC paling powerful saat ini karena menggabungkan storytelling, product demo, dan konversi dalam satu sesi real-time.
Kalau kamu butuh partner yang bisa bantu brand kamu mulai membangun ekosistem DTC-nya dari sisi konten dan channel digital, Crepa siap diskusi lebih lanjut. Klik ikon WhatsApp di pojok kanan bawah, dan kita ngobrol langsung soal kebutuhan brand kamu.
