#StressLessEarnMore

Inclusive Beauty Fenty Beauty Bikin Revlon dan Dior Ikut-ikutan, Ini Rahasia di Baliknya

Strategi Inclusive Beauty ala Fenty Beauty

Crepanity yang handle brand dengan positioning inclusive beuty, pernah nggak sih pusing mikirin gimana brand kamu kelihatan relate ke semua kalangan, tapi tanpa keliatan maksa dan dikira omong doang? Kalau masih bingung, ayok siuni deh, ikut Crepanion bahas studi kasus brand Fenty Beuty. 

Fenty Beauty ngebuktiin kalau strateginya soal inclusive beauty itu bukan gimmick belaka. Dikutip dari Femfounded, di tahun 2017 brand Fenty Beauty dengan segala strategi out of the box-nya, meraup $100 juta cuma dalam 40 hari. Ini tentu angka yang sulit kita bayangkan.

Makanya nggak heran kalau Revlon sampai Dior ATM-in strateginya Fenty Beauty buat dongkrak positioning inclusive beauty. So, di artikel ini, kita akan bongkar rahasia strateginya secara lengkap, dan cara brand kamu nyontek formulanya. Check this out!

Apa Itu Inclusive Beauty?

Sebelum bahas lebih jauh soal strategi Fenty, penting buat Crepanity pahami dulu apa itu inclusive beauty secara konkret. 

Menurut CB Insights, inclusive beauty adalah pendekatan kecantikan yang merangkul semua individu tanpa memandang gender, usia, agama, warna kulit, sampai jenis kulit mereka 

Clarkston Consulting menambahkan, inclusive beauty nggak cuma soal jumlah shade foundation yang ditawarkan. Konsep ini menuntut pendekatan yang lebih holistik, mulai dari formulasi produk, desain kemasan, sampai aksesibilitas harga buat semua kalangan konsumen 

Jadi kalau disimpulkan, inclusive beauty itu bukan sekadar strategi diversity campaign yang tempelan doang. Ini soal gimana brand kamu benar benar dirancang dari hulu ke hilir biar setiap orang, apapun latar belakangnya, ngerasa direpresentasikan dan terlayani dengan baik. 

Celebrity Effect Rihanna, Modal Awal yang Nggak Semua Brand Bisa Tiru

Nah, sekarang Crepanity udah paham definisi inclusive beauty secara konkret. Sekarang kita lanjut bahas ke salah satu modal terbesarnya justru datang dari sosok di balik brand itu sendiri, Rihanna. 

1. Founder yang Sekaligus Jadi Wajah Brand

Rihanna bukan sekadar investor atau brand ambassador musiman kayak kebanyakan selebriti lain. Dia terlibat langsung dalam pengembangan produk dan strategi promosi, jadinya bikin Fenty Beauty kerasa autentik dan personal.

Sejak awal launching, dia bahkan personally sharing pengalamannya lewat media sosial, yang langsung narik perhatian jutaan fans di seluruh dunia. Keterlibatan inilah yang bikin narasi inclusive beauty Fenty kerasa lebih genuine.

2. Kredibilitas Instan dari Basis Fans Global

Reach global Rihanna bikin Fenty Beauty otomatis dapet exposure yang brand baru biasanya butuh bertahun-tahun buat dapetin. Modal reputasi ini yang bikin celebrity effect jadi starting point kuat buat kampanye inclusive beauty.

Menurut Forbes, keterlibatan Rihanna bikin Fenty Beauty langsung dianggap credible sejak hari pertama launching, terutama karena dia dikenal vokal soal isu representasi.

3. Sisi Lain Celebrity Effect, Bukan Jaminan Tanpa Risiko

Meski keliatan powerful, strategi ini punya risiko tersendiri. Reputasi Rihanna yang goyah otomatis bakal ngefek langsung ke brand image Fenty, karena keduanya udah kelewat menyatu di mata publik.

Selain itu, modal ini juga nggak murah dan nggak instan. Kamu butuh selebriti dengan reach global dan kredibilitas solid buat bisa nyontek approach persis kayak yang Rihanna lakukan.

4. Strategi Alternatif Buat Brand yang Nggak Punya Modal Selebriti

Nggak semua brand punya akses ke selebriti sekelas Rihanna, dan itu sebenarnya wajar banget. Kamu bisa gantiin celebrity effect dengan kolaborasi KOL atau micro-influencer yang audiensnya relevan sama value inclusive beauty brand kamu.

Kuncinya bukan soal seberapa besar reach si figur publiknya, tapi seberapa otentik keterlibatan mereka dalam co-creation produk atau campaign yang kamu jalankan.

Social Media dan UGC Fenty Beauty, dari #FentyFace ke Loyalitas Jangka Panjang

Selain celebrity effect, kekuatan Fenty Beauty juga ditopang strategi social media dan user generated content yang solid. Dua elemen ini yang bikin narasi inclusive beauty mereka kerasa hidup dan terus digaungkan konsumennya sendiri.

1. Instagram dan Twitter Sebagai Ruang Interaksi

Fenty Beauty ngejalanin media sosial nggak sekadar buat pajang produk. Mereka rutin share behind the scenes, tutorial makeup, dan feedback user biar audiens ngerasa terlibat langsung.

Brand ini juga adopsi tone yang friendly dan responsif di kolom komentar. Pendekatan ini bikin komunitas online mereka kerasa hidup, bukan sekadar akun promosi satu arah.

2. Hashtag #FentyFace, Trigger UGC buat para Konsumen

Fenty Beauty ngedorong konsumennya share pengalaman makeup mereka lewat hashtag #FentyFace. Strategi ini ngebuka ruang buat konten promosi yang lebih autentik ketimbang iklan berbayar biasa.

Sampai saat ini, hashtag #FentyFace udah dipakai lebih dari 150.000 kali di Instagram dan menjangkau user dari berbagai belahan dunia. Angka ini nunjukin skala engagement yang jarang dicapai brand kecantikan lain.

3. UGC Jadi Bukti Nyata Inclusive Beauty

Lewat UGC, konsumen bisa liat langsung gimana satu produk foundation bisa cocok di berbagai warna kulit. Ini yang bikin klaim inclusive beauty Fenty kerasa lebih kredibel ketimbang sekadar copy iklan.

Fenty Beauty juga repost konten user di akun resmi mereka. Langkah simpel ini bikin konsumen ngerasa dilihat dan dihargai, yang ujungnya nguatin loyalitas jangka panjang.

4. Dari Engagement ke Loyalitas, Bukan Cuma Viral Sesaat

Volume UGC yang tinggi nggak otomatis berarti loyalitas kuat kalau nggak dikelola dengan benar. Fenty Beauty ngerawat siklus ini dengan konsisten ngasih ruang buat konsumen merasa jadi bagian dari brand.

Hasilnya, konsumen nggak cuma beli sekali terus pindah ke brand lain. Mereka jadi advokat yang terus produksi konten organik tanpa diminta, karena ngerasa punya ikatan emosional sama brand.

5. Mau Bangun Engagement Setara Fenty?

Ngebangun ekosistem UGC sekuat Fenty butuh kombinasi strategi KOL yang tepat sasaran dan pengelolaan social media yang konsisten, bukan sekadar posting rutin tanpa arah. 

Nah, kalau tim kamu terbatas, Crepa bisa bantu merancang kolaborasi KOL yang relevan sekaligus ngelola social media presence secara end to end, biar narasi inclusive beauty kamu kerasa autentik dan konsisten di setiap platform.

Kalau Crepanity tertarik diskusi lebih lanjut soal ini, langsung aja klik ikon WhatsApp di pojok kanan bawah layar ya.

Inclusive Product Strategy sebagai Fondasi

Celebrity effect dan strategi social media tadi sebenarnya cuma amplifier. Fondasi utama yang bikin semuanya works adalah inclusive product strategy yang jadi jantung dari keseluruhan brand Fenty Beauty.

Celebrity effect dan strategi social media tadi sebenarnya cuma amplifier. Fondasi utama yang bikin semuanya works adalah inclusive product strategy yang jadi jantung dari keseluruhan brand Fenty Beauty.

1. 40 Shade Foundation, Mendobrak Status Quo Industri

Di tahun 2017, Fenty Beauty launching dengan 40 shade foundation, angka yang jauh di atas standar industri kecantikan saat itu. Langkah ini langsung mendobrak keterbatasan pilihan warna yang selama ini jadi masalah konsumen berkulit gelap.

Hasilnya instan, brand ini raup $72 juta penjualan cuma di bulan pertama peluncurannya. Ini bukti kalau inclusive beauty yang dieksekusi serius bisa langsung nerjemah jadi angka penjualan konkret.

2. Ekspansi Shade Range yang Terus Konsisten

Fenty Beauty nggak berhenti di 40 shade doang terus stagnan. Brand ini terus memperluas rentang warnanya dan konsisten menerapkan konsep “suitable for all skin tones” di seluruh lini produk mereka.

Konsistensi ini yang bikin inclusive beauty Fenty kerasa sebagai komitmen jangka panjang, bukan sekadar gimmick marketing pas launching doang buat nyari sensasi awal.

3. Diverse Casting dalam Campaign, Representasi yang Konsisten dengan Produk

Fenty Beauty selalu pakai lineup model yang beragam dari segi ras, gender, usia, dan warna kulit di setiap materi campaign mereka. Representasi ini selaras sama produk yang mereka jual, bukan cuma pemanis visual doang.

Konsistensi antara produk dan representasi visual inilah yang bikin pesan inclusive beauty mereka kerasa believable di mata konsumen, bukan sekadar strategi pencitraan tanpa substansi.

4. Data Konsumen yang Nunjukin Inclusive Beauty Bukan Preferensi Minoritas

Riset dari Journal of Education, Humanities, and Social Science, nunjukin lebih dari 80% konsumen menganggap diversity dan inclusion jadi pertimbangan penting saat milih brand kecantikan. Fenty Beauty berhasil masuk pas banget ke demand ini lewat inclusive product strategy mereka.

Data ini nunjukin kalau inclusive beauty bukan lagi niche preference segelintir orang. Ini udah jadi ekspektasi mainstream yang brand kecantikan mana pun perlu mulai perhitungkan serius.

Simpulan

Fenty Beauty ngebuktiin kalau inclusive beauty bukan sekadar tren campaign musiman, tapi strategi menyeluruh yang nyambungin celebrity effect, social media, UGC, dan inclusive product strategy jadi satu ekosistem yang saling menguatkan.

Highlight dari pembahasan di atas:

  • Apa itu inclusive beauty: pendekatan holistik yang merangkul semua individu, mulai dari formulasi produk sampai aksesibilitas harga, bukan cuma soal jumlah shade foundation.
  • Celebrity effect Rihanna: modal reputasi dan keterlibatan langsung founder yang bikin narasi brand kerasa autentik, meski strategi ini butuh figur dengan kredibilitas dan reach yang nggak murah.
  • Social media dan UGC: hashtag #FentyFace jadi bukti konkret gimana konten organik dari konsumen bisa nguatin kredibilitas brand dan bangun loyalitas jangka panjang.
  • Inclusive product strategy: fondasi utama yang bikin semua strategi lain works, dibuktikan lewat konsistensi ekspansi shade range dan representasi diverse casting di setiap campaign.