#StressLessEarnMore

Strategi Pemasaran STP untuk Brand: Dari Analisis sampai Eksekusi Strategi

Bagaimana menerapkan strategi pemasaran STP
Bagaimana menerapkan strategi pemasaran STP
Apa Itu strategi pemasaran STP?

Di dunia digital marketing, aktif bikin konten dan pasang iklan memang nyawa utamanya. Tapi kalau target marketnya belum jelas atau terlalu luas, ya hampir pasti hasilnya sia-sia. Apalagi di kondisi bisnis yang hypercompetition seperti sekarang ini. Dan di titik inilah, strategi pemasaran STP jadi krusial. Lho, kenapa?

Karena strategi pemasaran STP memungkinkan brand tahu siapa yang dituju, apa yang ditawarkan, dan bagaimana cara berbicaranya. Kalau lihat data, ini penting sebab menurut laporan HubSpot, 82% marketer mengaku kesulitan menjangkau audiens yang benar karena segmentasi yang lemah.

So, buat para marketer atau pebisnis yang lagi galau soal ini, sini kita bahas solusinya. Di artikel ini, kita akan bahas mulai dari konsep dasar, manfaat bisnisnya, langkah implementasi, hingga contoh eksekusi agar keputusan pemasaran kamu terasa lebih presisi dan berdampak.

Apa Itu Strategi Pemasaran STP?

Sebelum masuk lebih jauh ke implementasi, kita samakan dulu pemahaman soal apa itu strategi pemasaran STP. Secara sederhana, ini adalah kerangka berpikir untuk membantu brand mengenali pasar, memilih audiens paling relevan, lalu menentukan posisi brand agar pesan pemasaran terasa tepat sasaran.

Lebih spesifik lagi, menurut Investopedia, strategi pemasaran STP adalah pendekatan pemasaran yang terdiri dari Segmenting, Targeting, dan Positioning untuk membantu perusahaan mengidentifikasi pelanggan bernilai tinggi dan menyusun pesan yang relevan bagi mereka.

Jadi bisa kita simpulkan, strategi pemasaran STP itu fondasi strategis yang menuntun brand dalam mengambil keputusan pemasaran berbasis data audiens, bukan asumsi. Pendekatan ini membuat aktivitas marketing lebih fokus, terarah, dan punya peluang konversi yang lebih realistis sejak awal.

Manfaat Menerapkan STP Marketing

Setelah paham apa itu STP, kamu mungkin bertanya-tanya: memang sepenting itu ya diterapkan? Jawabannya, iya. Karena seperti Crepanion bilang tadi, strategi pemasaran STP adalah fondasi yang bikin aktivitas marketing lebih masuk terstruktur dan lebih terukur di realita pasar.

Berikut beberapa manfaat utama saat brand mulai menerapkan strategi pemasaran STP secara serius dan konsisten.

1. Target Audiens Jadi Lebih Jelas dan Spesifik

Dengan STP, brand berhenti menebak-nebak siapa yang paling potensial. Segmentasi membantu memetakan karakter audiens, targeting menyaring yang paling relevan, dan hasilnya kampanye tidak lagi dilempar ke “semua orang”, tapi ke orang yang benar-benar butuh.

2. Pesan Marketing Lebih Relevan

Saat brand tahu siapa yang diajak bicara, pesan bisa disesuaikan dengan kebutuhan, masalah, dan konteks audiens. Strategi pemasaran STP membuat komunikasi brand terasa personal, bukan generik, sehingga peluang engagement dan trust bisa meningkat secara natural.

3. Budget Marketing Lebih Sehat dan Terkontrol

Tanpa STP, iklan mudah bocor ke audiens yang salah. Dengan pendekatan STP, alokasi budget jadi lebih fokus ke segmen bernilai tinggi. Hasilnya, biaya bisa ditekan tanpa mengorbankan performa, karena effort diarahkan ke area yang paling berpotensi konversi.

4. Positioning Brand Lebih Konsisten

STP membantu brand menentukan mau dikenal sebagai apa di benak audiens. Ketika positioning sudah jelas, semua aktivitas—dari konten, iklan, sampai campaign—bergerak dalam satu arah. Ini bikin brand lebih mudah diingat dan punya diferensiasi yang relevan di pasar.

Cara Menerapkan Strategi Pemasaran STP

Setelah tahu manfaatnya, sekarang kita masuk ke bagian paling praktikal: bagaimana cara menerapkan strategi pemasaran STP dalam konteks nyata.

Secara struktur, strategi pemasaran STP terdiri dari tiga tahap utama yang saling terhubung: segmenting, targeting, dan positioning. Ketiganya perlu dijalankan berurutan, karena keputusan di tahap awal akan sangat memengaruhi efektivitas strategi di tahap berikutnya.

1. Segmenting

Segmenting adalah proses membagi pasar besar menjadi kelompok-kelompok audiens yang memiliki karakteristik serupa. Dalam strategi pemasaran STP, segmentasi bisa berbasis demografi, geografis, psikografis, hingga perilaku, tergantung konteks bisnis dan data bradn milik kamu.

Cara menerapkannya dimulai dari mengumpulkan data audiens yang relevan, lalu mencari pola yang paling berpengaruh terhadap keputusan beli produk atau services bran-mu. Fokus pada variabel yang benar-benar berdampak, biar segmentasi tidak terlalu luas dan tetap bisa dieksekusi secara realistis.

2. Targeting

Setelah pasar terbagi, targeting berfungsi untuk memilih segmen mana yang paling layak difokuskan. Strategi pemasaran STP menuntut brand mengevaluasi setiap segmen berdasarkan potensi bisnis, daya beli, tingkat kompetisi, dan kesesuaian dengan kapabilitas brand.

Dalam praktiknya, targeting bisa kamu lakukan dengan menyaring segmen yang paling relevan dan menguntungkan untuk dijangkau. Di tahap ini, brand kamu perlu berani memilih, karena fokus pada audiens yang tepat jauh lebih efektif dibanding mencoba menjangkau semuanya sekaligus.

3. Positioning

Positioning adalah cara brand ingin dipersepsikan oleh target audiens terpilih. Pada tahap ini, strategi pemasaran STP membantu brand menentukan pesan utama, nilai unik, dan alasan rasional mengapa audiens harus memilih brand tersebut dibanding kompetitor.

Cara menerapkannya dimulai dari merumuskan value proposition yang jelas dan konsisten. Positioning kemudian diterjemahkan ke dalam komunikasi, visual, hingga pengalaman brand, sehingga persepsi audiens terbentuk secara berulang dan tidak bertabrakan di berbagai touchpoint.

Contoh Penerapan STP Marketing

Agar konsepnya tidak berhenti di kepala, sekarang kita lihat bagaimana strategi pemasaran STP bekerja saat benar-benar diterapkan.

Brand & Tantangannya

Bayangkan sebuah brand skincare lokal yang menyasar pasar urban. Tantangannya cukup umum: pasar ramai, kompetitor banyak, dan audiens terlihat luas tapi sulit dikonversi. Di sinilah strategi pemasaran STP mulai dipakai untuk merapikan arah marketing dari hulu ke hilir.

Tahap Segmenting

Pada tahap segmenting, brand ini membagi pasarnya berdasarkan usia, gaya hidup, dan masalah kulit. Mereka menemukan segmen perempuan usia 23–30 tahun, tinggal di kota besar, aktif bekerja, dan punya concern utama soal kulit kusam akibat aktivitas padat dan polusi.

Tahap Targeting

Masuk ke targeting, brand kemudian fokus ke segmen tersebut karena daya belinya stabil dan kebutuhannya jelas. Segmen lain tetap ada, tapi tidak dijadikan prioritas kampanye. Dengan begitu, pesan dan channel marketing bisa disesuaikan tanpa menyebar terlalu luas.

Tahap Positioning

Lalu di tahap positioning, brand memosisikan diri sebagai “skincare praktis untuk perempuan aktif yang butuh hasil efektif tanpa rutinitas ribet”. Positioning ini konsisten muncul di konten, iklan, hingga copy produk, sehingga persepsi audiens terbentuk secara jelas dan berulang.

Dari contoh ini terlihat kalau strategi pemasaran STP bukan soal teori kompleks, tapi soal membuat pilihan yang sadar dan terarah. Saat segmentasi, targeting, dan positioning selaras, strategi marketing jadi bisa lebih fokus, relevan, dan punya dampak nyata ke performa bisnis.

Simpulan

Nah, sampai di titik ini, harusnya makin jelas kalau strategi pemasaran STP bukan sekadar framework klasik di buku marketing. Intinya ada di cara brand memahami pasar, memilih audiens yang tepat, lalu membangun posisi yang relevan dan konsisten di benak mereka. Ini benang merah dari pembahasan kita.

  • Pertama, strategi pemasaran STP bekerja saat brand berhenti ingin menjangkau semua orang. Segmenting membantu membaca realita pasar, targeting memaksa brand untuk fokus, dan positioning memastikan pesan yang disampaikan punya arah yang jelas dan bisa dibedakan.
  • Kedua, masalah sering muncul bukan karena konsep STP-nya keliru, tapi karena penerapannya setengah-setengah. Data tidak digali dengan serius, target terlalu luas, atau positioning berubah-ubah mengikuti tren, sehingga strategi kehilangan dampak jangka panjang.
  • Ketiga, strategi pemasaran STP akan terasa hasilnya ketika dipakai sebagai fondasi, bukan tempelan. Ia perlu selaras dengan funnel marketing, channel distribusi, konten, hingga campaign, supaya setiap aktivitas punya tujuan yang sama.

 

Di Crepa, pendekatan ini kami gunakan untuk membantu brand merancang strategi konten, social media, dan campaign berbasis data serta insight audiens, agar setiap eksekusi punya alasan yang kuat.

Jadi, Crepanity, kalau kamu ingin strategi marketing yang lebih fokus, relevan, dan sustain secara bisnis, Crepanion siap jadi partner strategis kamu. Klik ikon WhatsApp di pojok kanan bawah, dan mari ngobrolin strategi yang benar-benar kerja untuk brand kamu.