#StressLessEarnMore

Apa Itu Trendjacking? Seni Menunggangi Tren Tanpa Merusak Reputasi Brand

Apa Itu Trendjacking?
Apa Itu Trendjacking?
Pengertian Trendjacking

Teruntuk tim kreatif marketing, siapa yang sering ngerasa setiap kali ada tren baru meledak di medsos, langsung muncul hasrat pengin ikutan? Pasti hampir semua, ya. Apalagi, kalau KPI kita adalah engagement. Tapi, bikin konten yang sifatnya trendjacking gini high rsik, Crepanity. Kenapa?

Masalahnya, trendjacking kalau eksekusinya asal, value kontennya nggak relevan sama brand, atau tren-nya cukup sensitif, bisa bikin brand terlihat cringe atau bahkan kena backlash publik. Tapi kalau eksekusinya tepat, dampaknya tentu cukup besar buat brand, jauh lebih dari sekadar viral sesaat.

Nah, supaya Crepanity nggak cuma ikut-ikutan tapi beneran manfaatin momentum tren dengan cerdas, artikel ini bakal bahas apa itu trendjacking, cara bedain tren yang worth it versus yang lebih baik dilewatin, sampai framework eksekusi yang bisa langsung dipakai tim kalian.

Apa Itu Trendjacking?

Sebelum masuk ke strategi dan eksekusinya, penting buat punya pemahaman yang bener dulu soal apa yang dimaksud dengan trendjacking dan kenapa ini jadi topik yang makin relevan di dunia marketing modern. 

Trendjacking adalah strategi di mana brand secara sengaja menyelipkan diri ke dalam percakapan publik seputar tren yang sedang viral. Baik itu meme, hashtag, isu, event, maupun momen budaya pop yang lagi ramai diperbincangkan.

Kata “trendjacking” sendiri merupakan gabungan dari “trend” dan “hijacking”, yang secara harfiah berarti “membajak tren.” Tapi dalam konteks marketing, framing yang lebih tepat adalah memanfaatkan momentum yang sudah ada daripada membangun perhatian dari nol.

Kenapa Trendjacking Bisa Jadi Senjata Marketing?

Ada beberapa alasan konkret kenapa taktik trendjacking, kalau dieksekusi dengan tepat, bisa ngasih impact yang jauh melebihi effort-nya. 

1. Memperluas Jangkauan Organik Tanpa Budget Besar

Tren yang sedang viral sudah punya audiens yang aktif mencari dan mengonsumsi konten seputar topik tersebut. Ketika brand ikut masuk ke dalam percakapan itu, konten kalian otomatis punya peluang lebih besar untuk ditemukan oleh orang-orang yang belum pernah follow atau kenal brand kalian sebelumnya.

Ini juga kenapa trendjacking sering jadi pilihan brand dengan budget media yang terbatas. Kalian nggak perlu bayar distribusi mahal kalau kontennya memang relevan dan timing-nya tepat.

2. Meningkatkan Engagement secara Signifikan

Konten yang nyambung sama sesuatu yang lagi ramai diperbincangkan secara natural lebih mudah memancing interaksi. Orang cenderung mau share, komen, atau tag teman mereka kalau konten itu terasa relevan sama momen yang mereka ikutin.

3. Membangun Persepsi Brand yang Relevan dan Culturally Aware

Brand yang konsisten muncul di momen-momen budaya yang tepat akan dipersepsikan sebagai brand yang “ngerti zaman.” Ini penting banget, terutama kalau target audiens kalian adalah generasi yang sangat sensitif sama relevansi budaya, seperti Gen Z dan milenial muda.

4. Mempercepat Brand Recall lewat Asosiasi Momen

Ketika eksekusi trendjacking berhasil, audiens nggak cuma ingat kontennya, tapi juga mengasosiasikan brand kalian dengan momen tersebut. Ini menciptakan brand recall yang jauh lebih kuat dibandingkan konten biasa yang berdiri sendiri tanpa konteks.

Contohnya Dunkin’. Waktu debat “The Dress” viral pada 2015 soal apakah warna gaun itu biru-hitam atau putih-emas, Dunkin’ langsung posting foto dua donat dengan warna masing-masing skema tersebut. 

Simpel, cepat, dan sampai sekarang masih sering disebut sebagai salah satu contoh trendjacking terbaik di eranya.

5. Mendorong Konversi, Bukan sekadar Awareness

Trendjacking yang dieksekusi dengan baik nggak berhenti di awareness saja. Data dari Zoomsphere menunjukkan bahwa 70% konsumen yang secara aktif engage dengan konten trendjacking lebih mungkin membeli produk yang dipromosikan lewat tren tersebut.

Contoh nyatanya adalah Heinz yang meluncurkan saus edisi terbatas “Ketchup and Seemingly Ranch” dalam waktu 24 jam setelah momen viral Taylor Swift. Produk itu langsung habis terjual.

Risiko Trendjacking yang Wajib Kamu Tahu Sebelum Ikut Tren

Setelah itu kita pahami risiko trendjacking sebelum kalian eksekusi. Beberapa jebakan ini sering banget bikin brand malah jadi bahan omongan negatif di media sosial.

1. Ikut Tren yang Nggak Relevan dengan Brand

Ini risiko paling umum dan paling gampang kejadian. Ketika konten kalian nggak punya koneksi logis sama brand identity atau produk yang ditawarkan, audiens langsung ngerasain nggak oke.

Kesannya bisa macem-macem: brand terlihat desperately seeking attention, nggak punya pendirian, atau sekadar ikut-ikutan tanpa tujuan. Dan semua itu, pelan-pelan menggerus kredibilitas yang udah dibangun lama.

2. Masuk Terlalu Terlambat ke dalam Tren

Di dunia media sosial, tren punya umur yang pendek banget. Dalam trendjacking, waktu adalah musuh utama. Terlambat 2-3 hari saja sudah berarti masuk ke tren yang perhatian internetnya sudah habis. 

Selain itu, brand yang ikut tren kedaluwarsa sering jadi bahan ledekan. Nggak ada yang lebih cringe dari konten meme yang diposting tiga minggu setelah tren-nya udah mati.

3. Salah Baca Konteks Tren yang Sensitif

Nggak semua tren itu netral. Ada tren yang di permukaan kelihatan fun dan ringan, tapi sebenernya punya konteks sosial, politik, atau budaya yang jauh lebih dalam. Kalau brand masuk tanpa riset yang cukup, risikonya adalah dianggap trivializing isu serius atau bahkan dianggap berpihak.

Kasus Pepsi dengan iklan Kendall Jenner adalah contoh paling terkenal. Mereka mencoba menunggangi momen gerakan sosial, tapi eksekusinya dianggap sangat nggak peka dan berakhir jadi salah satu iklan paling dikritik sepanjang masa.

4. Mengabaikan Tone dan Format Platform

Tiap platform punya culture dan bahasa visualnya sendiri. Tren di TikTok nggak otomatis bisa dipindahin mentah-mentah ke LinkedIn atau Instagram, karena audiens dan ekspektasi kontennya beda banget.

Kalau brand nggak aktif bikin konten dalam format di mana tren itu hidup, kemungkinan besar konten tersebut nggak bakal perform dengan baik. Makanya penting banget buat ngerti native format tiap platform sebelum eksekusi.

5. Nggak Punya Rencana kalau Konten Kena Backlash

Bahkan dengan persiapan matang sekalipun, trendjacking tetap bisa meleset. Yang jadi masalah adalah ketika brand nggak punya protokol respons yang jelas, panik, dan akhirnya malah memperparah situasi dengan respons yang lambat atau nggak tepat.

So, sebelum ikut tren apapun, tim kalian perlu sepakat dulu: siapa yang berwenang ambil keputusan kalau konten ini bermasalah, seberapa cepat harus respons, dan apa langkah pertama yang diambil.

Kriteria Tren yang Layak untuk Di-trendjack

Udah ngerti risikonya, sekarang pertanyaannya: gimana cara milih tren yang memang worth it buat dieksekusi? Karena, nggak semua yang lagi viral otomatis cocok buat brand kalian, dan poin-poin berikut bisa jadi filter awal sebelum tim kalian mutusin untuk ikut. 

1. Relevansi dengan Brand Identity dan Nilai

Pertanyaan pertama yang harus dijawab sebelum trendjacking adalah: “Apakah ini nyambung sama siapa kita sebagai brand?” Koneksinya nggak harus selalu literal atau langsung, tapi harus ada benang merah yang bisa dirasain audiens tanpa perlu dijelasin panjang lebar.

Kalau brand kalian bergerak di industri keuangan, misalnya, ikut tren dance challenge di TikTok perlu pertimbangan lebih matang dibanding ikut tren yang berkaitan dengan gaya hidup produktif atau financial freedom. 

2. Timing yang Masih dalam Window Tren

Tren viral punya siklus hidup yang bisa dibagi jadi tiga fase: rising, peak, dan declining. Idealnya, brand masuk di fase rising atau paling telat di awal peak, karena di situlah volume percakapan masih tinggi dan kompetisi konten belum terlalu padat.

Cara paling praktis buat monitor ini adalah lewat Google Trends, halaman Explore di TikTok, kolom trending di X, atau tools seperti Sprout Social dan Brandwatch. Kalau grafik interest-nya udah mulai turun, lebih baik skip dan tunggu tren berikutnya.

3. Potensi Koneksi ke Pesan atau Produk Brand

Tren yang layak di-trendjack idealnya bisa dijadiin jembatan ke pesan brand, produk, atau campaign yang lagi berjalan. Ini yang bikin trendjacking punya nilai lebih dari sekadar konten reaktif yang berdiri sendiri.

Contohnya seperti yang dilakukan Heinz dengan momen viral Taylor Swift tadi. Mereka nggak cuma bikin konten yang lucu, tapi langsung mengkoneksikannya ke produk nyata yang bisa dibeli.

4. Tingkat Risiko Kontroversi yang Terukur

Sebelum eksekusi, penting buat nilai apakah tren yang mau kalian tunggangi punya muatan sensitif, baik itu terkait isu sosial, politik, agama, maupun SARA. Kalau jawabannya iya, level kehati-hatian yang dibutuhkan jauh lebih tinggi.

Cara sederhananya: cari tahu dulu siapa yang bikin tren ini, dalam konteks apa tren ini muncul, dan bagaimana reaksi publik terhadapnya sampai sekarang. Kalau dari riset awal aja udah muncul banyak perdebatan, itu sinyal kuat buat pikir ulang atau bahkan skip sama sekali.

5. Kesesuaian Format dengan Kapabilitas Tim

Tren video pendek dengan editing kompleks nggak akan bisa dieksekusi dengan baik kalau tim kalian nggak punya workflow produksi yang cepat. Begitu juga tren yang butuh copywriting sangat kontekstual, nggak bisa diserahin ke orang yang nggak familiar sama culture di balik tren tersebut.

Jujur sama diri sendiri soal kapabilitas tim itu justru tanda kematangan dalam mengelola strategi konten. Restraint alias kemampuan untuk menahan diri dan nggak ikut setiap tren yang lewat adalah hal yang justru membedakan trend-chaser dari trend leader. 

Cara Melakukan Trendjacking yang Efektif

Setelah tahu tren mana yang layak dieksekusi, langkah berikutnya adalah soal gimana cara eksekusinya biar hasilnya optimal. Berikut langkah-langkah dalam menerapkan trendjacking yang bisa kamu lakukan sekarang juga:

1. Pantau Tren secara Aktif dan Sistematis

Monitoring tren nggak bisa dilakukan secara pasif atau nunggu ada yang laporan di grup chat. Tim kalian perlu punya sistem yang jalan setiap hari, bahkan setiap jam kalau memungkinkan, supaya nggak ketinggalan window yang sempit itu.

Beberapa tools yang bisa dipakai:

  • Google Trends: untuk lihat volume pencarian suatu topik secara real-time
  • TikTok Explore & Creative Center: untuk monitor audio, hashtag, dan format konten yang lagi naik
  • X Trending Topics: untuk pantau percakapan publik yang sedang panas
  • Sprout Social atau Brandwatch: untuk social listening yang lebih komprehensif dan lintas platform

2. Filter Tren Lewat Brand Lens Sebelum Eksekusi

Setiap tren yang masuk radar harus melewati satu pertanyaan sederhana dulu: “Kalau brand kita ikut ini, apakah kesannya natural atau dipaksain?” Kalau jawabannya dipaksain, langsung skip.

Brand lens ini mencakup tone of voice, nilai-nilai brand, dan audiens utama yang kalian layani. Tren yang lolos filter ini adalah tren yang bisa kalian eksekusi tanpa harus keluar dari karakter brand, dan itu yang bikin kontennya terasa autentik di mata audiens.

3. Tambahkan Spin yang Spesifik untuk Brand Kalian

Ikut tren bukan berarti copy-paste format yang sama persis kayak brand lain. Kalau kalian posting meme yang sama persis dengan semua brand lain di industri yang sama, kalian nggak bakal standout. 

Sebab, yang bikin trendjacking efektif adalah ketika kalian menginfuskan elemen unik yang spesifik untuk brand kalian ke dalam konten tren tersebut. Spin ini bisa berupa sudut pandang yang berbeda, humor yang khas, referensi internal yang hanya dimengerti audiens loyal kalian, atau koneksi ke produk atau layanan yang relevan. 

4. Gerakkan Tim dengan Workflow yang Ramping

Salah satu alasan banyak brand telat eksekusi trendjacking adalah proses approval yang terlalu panjang. Konten harus disetujui lima orang dulu sebelum tayang, dan pas udah di-approve, tren-nya udah keburu mati.

Solusinya adalah punya rapid response workflow yang jelas: siapa yang bisa greenlight konten tren tanpa harus nunggu rapat, template visual apa yang udah pre-approved dan siap pakai, dan seberapa jauh social media manager punya otonomi untuk eksekusi tanpa approval berlapis. 

5. Ukur Performa dan Jadikan Bahan Pembelajaran

Setiap konten trendjacking yang keluar harus dievaluasi, bukan cuma dilihat dari jumlah likes atau views, tapi dari apakah konten itu berkontribusi pada tujuan yang lebih besar seperti brand awareness, follower growth, atau traffic ke website.

Catat tren mana yang perform, format apa yang paling resonan, dan timing seperti apa yang paling efektif untuk audiens kalian. Lama-lama, data ini yang akan membentuk instinct kolektif tim kalian dalam memilih dan mengeksekusi tren dengan lebih presisi.

6. Percayakan Eksekusinya ke Tim yang Memang Hidup di Dunia Ini

Trendjacking yang efektif Butuh tim yang memang setiap harinya tenggelam dalam kultur media sosial, paham ritme tren di tiap platform, dan punya workflow yang udah teruji untuk bergerak cepat tanpa mengorbankan kualitas dan brand safety.

Kalau Crepanity ngerasa butuh partner buat ngerjainnya, ini saatnya serius mempertimbangkan kerja bareng Crepa. Kami menyediakan layanan Social Media Management yang benar-benar mengelola kehadiran brand kalian di media sosial secara strategis. 

Dari monitoring tren, ideasi konten, sampai eksekusi yang tepat waktu dan on-brand. Tim Crepa juga udah terbiasa bergerak cepat di tengah tren yang bergerak lebih cepat, dan hasilnya bisa langsung kalian rasain dalam bentuk engagement serta brand presence yang lebih kuat.

Kalau tertarik diskusi lebih lanjut, langsung aja klik ikon WhatsApp di pojok kanan bawah. Crepanion siap bantu kalian mulai dari sesi konsultasi pertama!

Simpulan

So, pada simpulannya, trendjacking bukan soal seberapa cepat kalian ikut tren, lebih dari itu adalah seberapa cerdas kalian memilih momen yang tepat dan mengeksekusinya dengan cara yang tetap on-brand.

Berikut ringkasan dari semua yang udah kita bahas:

  • Apa itu trendjacking: Strategi memanfaatkan momentum tren yang sedang viral, mulai dari meme, hashtag, hingga momen budaya pop, untuk meningkatkan visibilitas dan relevansi brand tanpa harus membangun perhatian dari nol.
  • Kenapa trendjacking powerful: Bisa memperluas jangkauan organik, meningkatkan engagement, membangun persepsi brand yang culturally aware, memperkuat brand recall, bahkan mendorong konversi langsung kalau eksekusinya tepat.
  • Risiko yang harus diwaspadai: Ikut tren yang nggak relevan, masuk terlalu telat, salah baca konteks tren sensitif, mengabaikan format platform, dan nggak punya rencana kalau konten kena backlash.
  • Kriteria tren yang layak di-trendjack: Relevan sama brand identity, masih dalam window tren, punya koneksi ke pesan atau produk, tingkat risikonya terukur, dan sesuai sama kapabilitas tim yang ada.
  • Cara eksekusi yang efektif: Pantau tren secara aktif dan sistematis, filter lewat brand lens, tambahkan spin yang unik, gerakkan tim dengan workflow yang ramping, ukur performa setiap konten, dan percayakan ke tim yang memang hidup di dunia ini.