Banyak brand owner masih mikir strategi bisnis pet itu sekadar jualan produk atau jasa doang. Benar memang. Tapi, pola belanja pet parents kini jauh lebih kompleks, nggak sekadar cari produk/jasa. Apalagi di era pet humanization sekarang ini.
Kalau kita lihat data soal pasar pet food di Indonesia, misalnya. IMARC Group mencatat kalau proyeksinya tumbuh dari USD 1,65 miliar di 2025. Salah satu faktor utamanya karena humanisasi hewan peliharaan dan permintaan produk premium, organik, serta fungsional.
Jadi strategi bisnis pet yang masih mengandalkan playbook lama jelas nggak akan cukup buat capture demand ini. Nah, di artikel ini, kita bakal bahas beberapa strategi bisnis pet yang relevan diterapkan brand owner biar nggak ketinggalan momentum pet humanization.
Pet Humanization Adalah Pergeseran Cara Belanja Pet Owner
Sebelum masuk ke strategi bisnis pet yang lebih taktikal, penting buat Crepanity pahami dulu akar dari fenomena ini.
Menurut Joue, pet humanization adalah pergeseran cara pandang di mana pet owner nggak lagi menganggap hewan peliharaan sekadar teman, tapi anggota keluarga penuh, dan riset APPA mencatat 95% pet owner setuju dengan pandangan ini.
Riset lain dari Clearly Loved Pets memperkuat gambaran itu dengan data konkret soal bagaimana mindset ini mengubah pola belanja. Pasar pet care global tumbuh 5,9% di 2023 mencapai USD 197,6 miliar, didorong pet owner yang rela menekan pengeluaran pribadi demi kualitas hidup hewan peliharaannya.
Jadi pet humanization bukan cuma soal emosi semata, tapi udah jadi driver ekonomi yang nyata. Buat brand owner, ini artinya strategi bisnis pet harus mulai bergeser dari jualan fungsi produk ke jualan pengalaman dan ikatan emosional pet owner dengan peliharaannya.
Repositioning Produk: dari Penuhi Kebutuhan ke Rawat Kedekatan Emosional
Setelah paham akar fenomenanya, sekarang saatnya masuk ke eksekusi. Kalau brand masih posisikan produk atau jasa cuma sebagai pemenuh kebutuhan dasar, strategi bisnis pet bakal susah bersaing dengan brand yang udah lebih dulu masuk ke ranah emosional pet owner.
Berikut beberapa cara repositioning yang bisa Crepanity terapkan, baik buat brand produk maupun jasa kayak pet hotel dan daycare.
1. Ubah Framing dari "Kebutuhan" Jadi "Momen Kebersamaan"
Alih-alih jualan makanan sebagai sekadar asupan gizi, framing ulang jadi bagian dari ritual harian antara pet owner dan peliharaannya.
The Farmer’s Dog jadi contoh nyata brand yang bangun narasi kuat seputar makanan segar berkualitas manusia, dan itu resonate banget sama pet parents yang concern soal kesehatan jangka panjang peliharaannya
Buat brand jasa kayak pet hotel, reposisi juga bisa dilakukan dengan ubah narasi dari “tempat penitipan” jadi “liburan yang dirancang khusus buat peliharaan”.
Contohnya Ritz-Carlton Pet Resort yang menawarkan pengalaman menginap layaknya manusia, lengkap dengan dog massage dan private playground.
2. Bangun Transparansi Sebagai Bentuk Trust Building
Pet owner sekarang nggak cuma butuh percaya, tapi butuh bukti bahwa peliharaannya beneran dirawat dengan baik. Ini penting banget khususnya buat bisnis jasa penitipan atau hotel hewan.
Salah satu manajer operasi Dogs Ministry di Jakarta bilang, mayoritas customer mereka menganggap anjingnya sebagai bagian dari keluarga, entah itu posisinya kayak anak atau saudara sendiri. Insight ini bisa jadi dasar kenapa laporan harian, foto, atau video real time selama pet dititipkan itu wajib banget ada.
- Kirim update foto atau video minimal 2 kali sehari
- Sediakan live report kondisi kesehatan dan aktivitas pet
- Buka akses komunikasi langsung ke pet sitter atau staf yang jaga
3. Ciptakan Produk atau Paket yang Rayakan Momen Personal
Sama kayak manusia, pet owner sekarang juga suka rayain momen spesial peliharaannya, mulai dari ulang tahun sampai anniversary adopsi. Brand bisa capture ini lewat produk atau paket layanan yang sifatnya limited dan personal.
Contohnya, bikin birthday package khusus di pet hotel lengkap dengan dekorasi dan kue custom, atau bundling produk dengan personalisasi nama pet di packaging. Strategi bisnis pet semacam ini efektif dorong repeat purchase karena terasa personal, bukan transaksional semata.
Cara Ngomong ke Pet Owner Juga Harus Berubah
Setelah repositioning produk dan jasa udah sejalan sama emosi pet owner, sekarang saatnya sesuaikan juga cara komunikasinya.
Tone of voice yang dipakai brand ke audiensnya jadi elemen penting dalam strategi bisnis pet, karena cara ngomong yang salah bisa bikin repositioning tadi terasa nggak konsisten.
1. Ganti Sapaan "Pet Owner" Jadi "Pet Parent"
Sekarang orang nggak lagi cuma “punya” hewan peliharaan, tapi merasa jadi orang tuanya. Brand yang masih pakai istilah “owner” secara nggak sadar bikin jarak, padahal audiensnya udah menganggap diri mereka pet parent seutuhnya.
Ganti sapaan sekecil ini kelihatan sepele, tapi ngaruh ke gimana pet owner merasa dipahami oleh brand. Konsistenkan istilah ini di semua touchpoint, mulai dari caption sosmed, copy iklan, sampai chat customer service.
2. Bicara Soal Manfaat untuk Pet, Bukan Fitur untuk Owner
Framing pesan yang efektif itu fokus ke apa yang dirasakan si pet, bukan cuma spek produk atau layanan. Alih-alih bilang “bahan alami”, jelasin dampaknya, misalnya bikin napas pet lebih segar atau bikin dia lebih tenang.
Pendekatan ini juga berlaku buat bisnis jasa. Daripada promosi “kandang luas dan AC dingin”, jelasin gimana fasilitas itu bikin pet betah dan nggak stres selama dititip.
3. Jangan Cuma Emosional, Tapi Juga Kasih Bukti
Pet parent generasi sekarang emang gampang connect lewat storytelling, tapi mereka juga makin kritis dan butuh validasi yang konkret.
Jadi pastikan strategi bisnis pet kamu nggak berhenti di copy yang menyentuh doang. Selipkan data, sertifikasi, review asli, atau testimoni pet parent lain sebagai penguat klaim yang disampaikan.
4. Jaga Konsistensi Tone di Semua Kanal
Tone yang hangat di Instagram tapi kaku di WhatsApp customer service bakal bikin brand terasa nggak genuine. Pet parent bisa dengan cepat notice inkonsistensi kayak gini, apalagi kalau mereka udah loyal customer.
- Samakan sapaan dan gaya bahasa di semua platform, dari sosmed sampai email
- Pastikan tim CS dan tim konten paham brand voice yang sama
- Review berkala biar tone nggak drift seiring pergantian tim
Strategi Social Media Marketing untuk Bisnis Pet di Era Pet Humanization
Sosial media jadi medan utama buat bisnis pet ketemu audiensnya, dan berikut beberapa strategi bisnis pet yang bisa Crepanity terapkan di kanal ini.
1. Bangun Visual Identity yang Kerasa "Dog-Friendly" dan Approachable
Visual identity brand pet idealnya nggak kaku kayak brand corporate biasa. Karakter mascot, ilustrasi hand-drawn, atau bahkan real pet sebagai “wajah” brand bikin audiens lebih gampang connect secara emosional.
Pemilihan warna juga krusial. Rover misalnya pakai kombinasi biru menenangkan dengan warm neutral buat kesan approachable, sementara BarkBox pakai oranye playful dipadu navy biar terasa trustworthy tapi tetap fun.
Buat bisnis jasa kayak pet hotel, karakter visual ini bisa diperkuat lewat konsistensi di semua touchpoint. Mulai dari feed Instagram, seragam staf, sampai signage di lokasi fisik, semua harus punya “vibe” yang sama.
2. Susun Content Pillar, Jangan Asal Posting
Banyak bisnis pet posting random tanpa arah, padahal konten yang efektif itu harus punya porsi jelas antar jenis kontennya. Content pillar bantu jaga konsistensi sekaligus memastikan setiap konten punya fungsi spesifik dalam funnel.
- Edukasi (30%): tips perawatan, nutrisi, atau kesehatan pet
- Hiburan (30%): momen lucu, behind the scenes, atau transformasi grooming
- Social proof (20%): testimoni, UGC, review dari pet parent
- Promosi (20%): produk baru, promo, atau paket layanan
Porsi ini bisa disesuaikan sama goals brand, tapi intinya jangan sampai konten promosi mendominasi feed karena bisa bikin audiens ilfeel dan unfollow.
3. Format Video Pendek dengan Sudut Pandang Si Pet
Coba eksplorasi angle POV dari sudut pandang si pet, misalnya video “a day in my life” dari kacamata anjing yang lagi di daycare. Pendekatan storytelling kayak gini biasanya lebih nempel di algoritma dibanding konten studio yang terlalu polished.
4. Gandeng Micro Petfluencer yang Karakternya Sejalan dengan Brand
Mengutip Bigeye Agency, micro petfluencer dengan 5.000 sampai 50.000 followers bisa hasilkan engagement rate 5 sampai 10%, jauh di atas rata-rata influencer umum yang cuma sekitar 2,4%.
Pilih petfluencer yang kepribadian petnya cocok sama visual identity brand. Kalau brand kamu punya vibe playful dan energic, jangan pilih pet influencer dengan karakter kalem dan pendiam.
5. Jadikan UGC Sebagai Bukti Sosial Paling Kuat
Review, foto, dan video dari customer asli terbukti lebih kredibel dibanding materi iklan konvensional, apalagi buat industri seemosional pet. UGC ini juga jadi validasi nyata bahwa visual identity dan janji brand emang sesuai kenyataan.
Dorong pet parent share momen mereka lewat branded hashtag, lalu repurpose jadi materi campaign atau konten feed reguler. Cara ini bikin komunitas pet parent yang makin loyal ke strategi bisnis pet yang udah dibangun.
Woof Inn, Bukti Pet Hotel Bisa Menang Hati Pet Owner Lewat Strategi yang Tepat
Biar nggak cuma teori, coba lihat gimana strategi bisnis pet di atas kerasa dampaknya lewat salah satu klien Crepa, Woof Inn. Case study ini nunjukin gimana repositioning dan eksekusi konten yang tepat bisa jawab tantangan nyata di lapangan.
1. Cage-Free Dog Hotel dengan Positioning Premium di Tengah Kompetisi Ketat
Woof Inn adalah cage-free dog hotel dan daycare yang berlokasi di kawasan Gading Serpong-BSD, Tangerang, dengan positioning premium sejak awal berdiri. Meski konsepnya udah kuat, umur bisnis yang masih kurang dari setahun bikin mereka hadapi tantangan klasik startup.
Awareness masih rendah, engagement sosmed minim, dan susah bersaing sama kompetitor yang udah lebih dulu punya nama. Di titik ini, Woof Inn butuh strategi bisnis pet yang bisa bangun kepercayaan sekaligus visibility secara bersamaan.
2. Revamp Corporate Identity yang Lebih Dog-Friendly dan Personal
Crepa masuk lewat dua layanan utama, Social Media Management dan Corporate Identity, buat benerin fondasi brand-nya dulu. Visual identity Woof Inn direvamp jadi lebih dog-friendly dan cute, sesuai sama karakter cage-free hotel yang emang dirancang buat bikin anjing merasa nyaman kayak di rumah sendiri.
Perubahan visual ini bukan cuma soal estetik, tapi juga nunjukin positioning premium yang lebih approachable, sesuai sama repositioning produk ke arah kedekatan emosional yang udah dibahas sebelumnya.
3. Strategi Konten Berbasis Animal Communication sebagai Core Anchor
Salah satu titik balik terbesar Woof Inn ada di jenis kontennya. Alih-alih edukasi generik, Crepa dorong konten yang lebih personal dan spesifik ke target audiensnya, dengan tema animal communication jadi core anchor strategi kontennya.
Setiap tamu alias anjing yang pernah menginap dibikinin konten personal, bukan cuma promosi fasilitas hotel secara umum. Pendekatan ini bikin pet parent merasa peliharaannya beneran “dikenal” oleh Woof Inn, bukan sekadar pelanggan yang lewat.
4. Hasil Nyata dari Kombinasi Konten Organik dan Ads
Kombinasi strategi ini kasih hasil yang konkret. Dalam waktu 3 bulan, akun Instagram Woof Inn mencatat reach lebih dari 42 ribu, engagement rate 5,79%, dan conversion rate 18,9% dari campuran konten organik dan ads.
Angka ini nunjukin kalau strategi bisnis pet yang dijalankan dengan repositioning yang tepat, visual identity yang relevan, dan konten yang personal, bisa langsung berdampak ke bisnis meski usia brand-nya masih baru.
So, kalau Crepanity punya bisnis pet, entah itu produk atau jasa kayak pet hotel dan daycare, dan ngerasa masih struggle bangun awareness atau engagement yang relevan, Crepa siap bantu rancang strategi yang serupa.
Tinggal klik ikon WhatsApp di pojok kanan bawah buat mulai konsultasi bareng tim Crepa.
Simpulan
Pet humanization udah mengubah total cara pet owner belanja, dan brand yang masih main di level fungsional doang bakal ketinggalan momentum dari kompetitor yang lebih dulu masuk ke ranah emosional.
Biar ke-wrap up dengan rapi, ini poin penting yang sudah kita bahas:
- Pet humanization adalah pergeseran cara pandang pet owner yang menganggap peliharaannya sebagai anggota keluarga, bukan sekadar hewan piaraan biasa.
- Strategi bisnis pet perlu reposisi produk dan jasa dari sekadar penuhi kebutuhan jadi rawat kedekatan emosional lewat storytelling, transparansi, dan momen personal.
- Cara ngomong ke pet owner juga harus ikut berubah, mulai dari sapaan “pet parent”, framing manfaat untuk si pet, sampai konsistensi tone di semua kanal.
- Eksekusi di sosial media butuh visual identity yang dog-friendly, content pillar yang terarah, dan kolaborasi sama micro petfluencer buat bangun trust yang genuine.
- Studi kasus Woof Inn jadi bukti nyata, kombinasi revamp visual identity dan strategi konten personal berbasis animal communication bisa hasilkan reach 42rb+ dan engagement rate 5,79% hanya dalam 3 bulan.
