#StressLessEarnMore

Strategi Marketing Tanpa Diskon ala IKEA: Reframing Harga Jadi Value Emosional

Bagaimana Menerapkan Strategi Marketing tanpa Diskon?
Bagaimana Menerapkan Strategi Marketing tanpa Diskon?

Ketika sales turun, apalagi pas kondisi daya beli melemah, strategi yang kerap dipakai banyak  brand hampir pasti adalah diskon. Apakah salah? Ngga juga sih. Tapi, brand harus siap kalau customer jadi malas beli di harga normal. Itu kenapa strategi marketing tanpa diskon perlu dipikirin.

Brand besar seperti IKEA sebenarnya juga ngalamin tekanan dari kompetitor. Tapi bedanya, IKEA nggak ngandelin diskon buat narik customer. Ada strategi  tertentu yang bikin customer IEKA tetap loyal, tanpa perlu nunggu sale buat ngerasa worth beli product IKEA.

Nah, di artikel ini, Crepanion bakal bedah gimana IKEA reframing harga jadi value emosional lewat storytelling dan psychological pricing. Kita juga bakal tahu, gimana sih nerapin strategi marketing tanpa diskon di brand sendiri. 

Kenapa Diskon Bukan Lagi Solusi Jangka Panjang buat Brand?

Sebelum bahas caranya IKEA reframing harga, penting paham dulu kenapa diskon makin nggak relevan sebagai strategi jangka panjang. Ada beberapa alasan konkret kenapa brand besar mulai geser ke strategi marketing tanpa diskon.

1. Diskon Melatih Customer buat Nunggu Harga Turun

Setiap kali brand ngasih diskon, customer diam-diam belajar pola baru: tunggu aja, nanti juga turun. Dan lama-lama, mereka nggak mau beli di harga normal.

Fenomena ini disebut discount fatigue, dan efeknya bikin full price purchase kerasa kayak keputusan yang bodoh di mata konsumen

2. Margin Tergerus Lebih Cepat dari yang Disadari

Data dari Klaviyo terhadap ribuan brand periode Q1 2025 sampai Q1 2026 nunjukin brand yang minim diskon justru tumbuh GMV 12% year on year.

Sebaliknya, brand yang rutin diskon 11 kali setahun atau lebih malah rugi margin sampai 11%, bikin gap 19 poin dibanding yang lebih disiplin. Angka ini jadi alasan kuat buat mikirin ulang ketergantungan sama diskon.

3. Diskon Bikin Brand Kehilangan Diferensiasi

Kalau kompetitor gampang niru harga, satu-satunya senjata yang tersisa cuma perang harga. Brand jadi susah dibedain selain dari siapa yang paling murah.

Ujung-ujungnya semua brand di kategori sama-sama rugi, dan ini sekali lagi strategi marketing tanpa diskon jadi satu-satunya jalan buat keluar dari race to the bottom ini.

4. Diskon cuma Nunda Masalah, Bukan Nyelesein Akar Persoalan

Lonjakan sales pas diskon sering keliatan meyakinkan di laporan, padahal itu cuma nunda masalah yang lebih besar soal positioning dan value brand.

Begitu diskon dihentiin, sales ikut anjlok karena brand nggak pernah bener-bener bangun alasan kuat buat orang beli di harga normal.

Studi Kasus, Cara IKEA Terapkan Strategi Marketing Tanpa Diskon

Biar nggak cuma ngerti teorinya doang, sekarang kita bedah pelan-pelan gimana IKEA Belgium beneran eksekusi strategi marketing tanpa diskon ini di lapangan. 

1. Pahami Dulu Logika Dasarnya: Harga Dibagi, Bukan Dikurangi

Biasanya kalau brand mau bikin harga kerasa lebih murah, caranya ya dikurangi lewat diskon. Rp1 juta jadi Rp800 ribu.

Nah, kalau IKEA, lewat campaign “Emotional Pricing” (digarap Ogilvy Social Lab Brussels, rilis Agustus 2026) pakai logika kebalikannya. Harga produk nggak dikurangi, tapi dibagi sama jumlah momen bahagia yang bisa diciptain produk itu sepanjang usia pakainya.

Bayangin gini: kalau sofa dipakai buat “duduk santai” 10.000 kali seumur hidupnya, maka harga sofa itu dibagi 10.000. Hasilnya, angka yang muncul jadi kecil banget, bahkan hampir nggak kerasa sebagai biaya.

2. Contoh Perhitungan Konkret

Biar kebayang jelas, kita pakai contoh nyata dari campaign-nya. Sofa KIVIK dijual seharga €499, atau setara sekitar Rp10,3 juta kalau dikonversi pakai kurs sekarang.

Angka Rp10,3 juta ini kedengeran lumayan gede buat sebagian orang, apalagi kalau dibandingin sama budget bulanan. Nah, di sinilah strategi marketing tanpa diskon versi IKEA masuk buat ngerubah persepsi itu.

IKEA nggak berhenti di angka Rp10,3 juta. Mereka bagi harga itu sama estimasi berapa kali anak-anak bakal lompat kegirangan di atas sofa itu selama bertahun-tahun pemakaian.

Hasil pembagiannya, harga per satu momen “lompat kegirangan” itu jadi €0,00000063, atau kalau dirupiahkan cuma sekitar Rp0,013. Praktis nggak kerasa sebagai pengeluaran sama sekali.

3. Tiga Eksekusi Lain dengan Logika Perhitungan yang Sama

Setelah ngerti cara hitung sofa KIVIK, tiga produk lain di campaign ini juga dihitung persis pakai rumus yang sama, cuma beda momen emosionalnya:

  • Mainan anjing UTSÅDD, harga asli €7,99 (sekitar Rp165 ribu), dibagi jumlah kibasan ekor anjing sepanjang usia mainan itu, hasilnya cuma €0,0000024 per kibasan ekor (kurang lebih Rp0,05).
  • Lampu portable NÖDMAST, harga asli €14,99 (sekitar Rp310 ribu), dibagi jumlah cerita sebelum tidur yang bisa ditemenin lampu itu, hasilnya €0,000000018 per cerita (praktis Rp0,0004, mendekati nol).
  • Kursi kayu SKOGSTA, harga asli €69 (sekitar Rp1,4 juta), dibagi momen personal kayak “deg-degan pas ngobrol sambil duduk di situ”, hasilnya cuma €0,00000000076 per momen (setara Rp0,000016).

4. Kenapa Trik Perhitungan Ini Ngena Secara Psikologis?

Ini bagian yang penting dipahami: otak manusia cenderung lebih fokus ke angka yang paling gampang diproses, bukan angka yang paling akurat secara matematis.

Begitu konsumen liat angka kecil kayak Rp0,013 per momen, otak mereka otomatis nge-anchor ke angka itu, bukan ke harga asli Rp10,3 juta. Efek ini bikin harga awal jadi kerasa nggak relevan lagi buat dipikirin.

Strategi marketing tanpa diskon kayak gini justru lebih efektif dibanding diskon biasa. Sebabnya, diskon cuma ngerubah angka di depan, sementara reframing ini ngerubah cara konsumen mikirin value dari produknya.

5. Cara Menampilkan Dua Harga Ini di Depan Audiens

Nah ini bagian yang paling praktis buat Crepanity. Di eksekusi asli IKEA, dua angka ini nggak muncul terpisah, tapi ditempel bareng di satu visual yang sama.

Ambil contoh mainan anjing UTSÅDD tadi. Di poster, harga asli Rp165 ribu tetap dipajang jelas dan nggak disembunyikan sama sekali, persis kayak label harga normal di rak toko.

Tepat di bawahnya, ada angka kedua yang jauh lebih kecil ukuran font-nya: “Rp0,05 per kibasan ekor”. Ini yang bikin mata audiens otomatis kebawa mikir ke momennya, bukan ke nominal.

Fotonya juga sengaja bukan product shot studio biasa. Foto anjing yang lagi excited megang mainan itu, biar konteks emosionalnya langsung kebaca tanpa perlu dijelasin panjang lebar.

Cara Menerapkan Strategi Serupa di Campaign Sendiri

Sekarang saatnya bahas bagian yang paling ditunggu, gimana caranya Crepanity beneran nerapin strategi marketing tanpa diskon ini di brand sendiri. Kita bakal jalanin step by step pakai contoh kasus biar gampang diadaptasi.

1. Riset Dulu Momen Emosional yang Beneran Nempel sama Produk

Sebelum mikirin angka, cari dulu momen spesifik yang bikin produk Crepanity dipakai berkali-kali dalam hidup konsumen.

Misalnya brand skincare punya toner seharga Rp149.000. Momen relevannya bukan”cantik” yang terlalu umum, tapi hal konkret kayak “rutinitas skincare tiap pagi sebelum kerja”.

Cara nemuinnya gampang, tinggal tanya ke tim riset atau customer service: kapan sih produk ini paling sering dipakai, dan perasaan apa yang muncul waktu itu.

2. Hitung Angka “Harga per Momen” Pakai Rumus Sederhana

Setelah momennya ketemu, sekarang hitung pakai rumus yang sama kayak IKEA: harga produk dibagi estimasi jumlah pemakaian sepanjang usia produk itu.

Lanjut contoh toner tadi. Kalau satu botol dipakai dua kali sehari dan tahan sekitar 60 hari, berarti totalnya ada 120 kali pemakaian selama satu botol itu habis.

Tinggal bagi aja, Rp149.000 dibagi 120 kali pemakaian, hasilnya sekitar Rp1.242 per kali pakai. Angka ini yang nanti jadi bintang utama di komunikasi.

Kalau mau lebih emosional lagi, bisa dinaikin levelnya jadi “per kali ngaca sambil pede ke kantor”, bukan sekadar “per kali pakai” yang masih terasa fungsional.

3. Desain Visual yang Nunjukin Dua Harga Sekaligus

Kunci taktik ini ada di gimana dua angka itu ditampilkan bareng, bukan angka kecilnya doang yang dipajang sendirian.

Harga asli Rp149.000 tetap harus keliatan jelas dan jujur, biar audiens nggak ngerasa dibohongin atau ada yang disembunyiin dari mereka.

Baru di bawahnya, tampilin angka kecil “Rp1.242 per kali ngaca sambil pede” dengan font yang beda, dibarengin foto orang lagi beneran ngerasain momen itu.

4. Pilih Channel yang Cocok buat Format Visual Kayak Gini

IKEA pakai OOH kayak billboard halte, tapi Crepanity nggak harus niru persis. Sesuaikan channel sama tempat audiens paling sering ketemu produk.

Format ini cocok banget buat Instagram carousel, di mana slide pertama nunjukin produk dan harga asli, terus slide berikutnya reveal angka kecilnya pelan-pelan.

Bisa juga dipasang di packaging produk itu sendiri, jadi setiap kali konsumen pegang produknya, mereka keinget lagi sama value emosional yang udah dibangun.

5. Serahin Eksekusinya ke Tim yang Udah Biasa Kelola Konten Kayak Gini

Ngerti konsepnya emang langkah awal, tapi eksekusi rutin di lapangan sering biasanya jadi tantangan tersendiri buat tim internal yang udah sibuk sama kerjaan lain sehari-hari.

Nge-riset momen emosional yang tepat, ngulik copy tiap slide, sampai jaga konsistensi tone di setiap postingan itu butuh effort yang nggak main-main kalau dikerjain sendirian terus-terusan.

Di sini, Crepa bisa jadi partner yang pas lewat service Social Media Manageement, mulai dari riset insight audiens, produksi konten, sampai jadwal posting yang konsisten tanpa bikin tim internal kewalahan.

Kalau Crepanity lagi mikirin gimana caranya ngangkat strategi marketing tanpa diskon ini jadi konten yang jalan terus tiap minggu, tim Crepa siap bantu diskusiin dari awal.

Tinggal klik ikon WhatsApp di pojok kanan bawah layar ini, dan Crepanion bakal langsung sigap nemenin ngobrolin campaign yang paling cocok buat brand Crepanity.

Simpulan

Diskon emang gampang naikin sales sesaat, tapi risikonya brand kehilangan margin dan diferensiasi dalam jangka panjang. Dan strategi marketing tanpa diskon ala IKEA, nunjukin kalau ada cara lain yang lebih tahan lama buat bangun value di mata konsumen.

Beberapa poin penting yang udah kita bahas di artikel ini:

  • Diskon yang terus-menerus bikin customer nunggu promo, ngikis margin, dan bikin brand susah dibedain dari kompetitor.
  • IKEA lewat campaign “Emotional Pricing” reframing harga produk dengan cara membaginya ke jumlah momen emosional, bukan menguranginya lewat diskon.
  • Perhitungan “harga per momen” ini bikin angka jadi kecil banget secara psikologis, sehingga harga asli jadi terasa nggak relevan lagi buat dipikirin konsumen.
  • Taktik ini bisa diadaptasi lewat riset momen emosional yang relevan, hitung angka harga per momen, desain visual dua harga, sampai pilih channel yang pas.