Yups, Crepanity nggak salah baca, kok. Setelah sebelumnya ekonomi kita sempat melemah, mulai turunnya daya beli, melemahnya rupiah, sampai capital outflow asing, kini ekonomi Indonesia mulai membaik. Dan ini, indikator yang krusial buat develop strategi marketing.
So, CMO atau digital marketer jangan kelamaan wait and see. Karena bisa-bisa kompetitor pada gerak duluan ambil momentum ini. Lalu apa yang bisa di-develop soal strategi marketing saat ekonomi mulai membaik? Mari kita bahas tuntas di artikel ini.
3 Sinyal Ekonomi Indonesia Mulai Membaik
Oke, sebelum buru-buru nyusun ulang strategi marketing, penting buat ngerti dulu apa sih sebenarnya yang bikin optimisme ini muncul.
Ada tiga sinyal konkret yang nunjukin ekonomi Indonesia mulai bangkit, dan ini dia rangkumannya:
1. PMI Manufaktur Kembali ke Zona Ekspansif
Data S&P Global mencatat PMI Manufaktur Indonesia melompat ke 50,2 pada Juli 2026, level tertinggi sejak Februari. Angka ini sekaligus bikin Indonesia keluar dari zona kontraksi, setelah dua bulan berturut-turut bertahan di bawah level 50.
Kenaikan ini ditopang oleh volume produksi yang naik lagi setelah empat bulan berturut-turut turun. Pelaku usaha juga melaporkan permintaan yang membaik dan kepercayaan pelanggan yang meningkat.
Perbaikan ini bahkan mulai memicu penambahan tenaga kerja di sektor industri, sinyal positif yang relevan buat strategi marketing brand yang menyasar segmen pekerja manufaktur.
2. Inflasi Melandai, Daya Beli Mulai Membaik
BPS mencatat inflasi tahunan Indonesia turun ke 2,88% pada Juli 2026, dari 3,34% di bulan sebelumnya. Secara bulanan, Indonesia bahkan mengalami deflasi 0,14%.
Penurunan ini didorong turunnya harga sejumlah komoditas pangan seperti bawang merah, cabai, telur ayam ras, dan tomat. Artinya, tekanan biaya hidup masyarakat mulai mengendur.
Buat brand, ini momentum penting. Daya beli yang lebih stabil berarti ruang gerak lebih luas buat strategi marketing yang lebih ekspansif, mulai dari kampanye sampai promosi.
3. Dana Asing Kembali Masuk ke Pasar Saham
Sepanjang pekan lalu, investor asing mencatatkan net buy sekitar Rp7,1 triliun di pasar saham Indonesia, berbalik dari net sell Rp3,36 triliun pekan sebelumnya.
IHSG pun ikut menguat ke level 6.235,10, naik 6,12% dalam sebulan terakhir. Saham MAPI jadi yang paling diborong asing dengan net buy Rp9,33 triliun.
Masuknya dana asing ini jadi indikator kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. Buat tim marketing, ini sinyal kuat buat mulai nyusun strategi marketing yang lebih berani.
Kenapa Brand Perlu Geser Strategi dari Defensif ke Ekspansif?
Tiga sinyal di atas tadi punya implikasi langsung ke cara brand harus mikirin strategi marketing ke depan, dan berikut alasannya kenapa saatnya geser gigi.
1. Kompetitor yang Gerak Cepat Bakal Ambil Market Share Duluan
Saat market mulai pulih, brand yang masih mode defensif bakal ketinggalan start. Kompetitor yang udah siapin strategi marketing ekspansif dari sekarang bakal duluan nangkep momentum ini.
Market share yang direbut di fase awal pemulihan biasanya paling susah direbut balik. Kenapa? Karena konsumen keburu terbentuk preferensinya sama brand yang lebih dulu hadir dan konsisten.
2. Cost Acquisition Masih Relatif Rendah
Selama market belum seramai fase boom, biaya akuisisi pelanggan lewat iklan digital maupun campaign biasanya masih relatif terjangkau. Ini window yang sayang banget kalau dilewatin.
Begitu banyak brand mulai all in bareng-bareng, competition di ranah iklan bakal naik dan cost per acquisition otomatis ikut melonjak. Jadi strategi marketing yang gerak duluan jelas lebih efisien secara budget.
3. Sentimen Konsumen Membaik, Purchase Intent Ikut Naik
Inflasi yang melandai bikin tekanan biaya hidup masyarakat berkurang, dan ini biasanya berbanding lurus sama niat belanja. Konsumen jadi lebih terbuka buat coba hal baru.
Momen kayak gini pas banget buat brand ngeluncurin produk baru, promo, atau kampanye awareness yang lebih agresif.
4. Window Momentum Ini Terbatas
Pemulihan ekonomi biasanya nggak berlangsung linear dan bisa aja shifting arah lagi kalau ada gejolak eksternal. Nah, brand yang lambat bergerak, berisiko kehabisan waktu buat capitalize momentum ini.
Semakin cepat brand transisi dari strategi marketing yang defensif ke ekspansif, semakin besar juga peluang buat maksimalin fase pemulihan sebelum kompetisi makin sengit.
Strategi Marketing yang Bisa Brand Terapkan saat Ekonomi Mulai Membaik
Momentum pemulihan ekonomi ini nggak akan berarti apa-apa kalau brand nggak eksekusi dengan strategi marketing yang tepat sasaran.
Berikut lima strategi konkret yang bisa langsung diaplikasikan tim marketing buat manfaatin fase pemulihan ini.
1. Naikkan Budget Iklan Secara Bertahap dan Terukur
PMI manufaktur yang balik ke zona ekspansif nunjukkin pelaku usaha mulai pede nambah produksi lagi. Ini sinyal kuat kalau demand market beneran naik, bukan sekadar sentimen sesaat.
Karena belum semua brand langsung all in, cost per acquisition di banyak channel iklan masih relatif terjangkau. Strategi marketing yang naikkan budget bertahap sambil pantau ROAS jadi cara paling efisien manfaatin window ini.
Fokuskan dulu ke channel yang udah terbukti performing, baru ekspansi ke channel baru. Contohnya naikkan budget Meta Ads 20-30% per bulan sambil terus monitoring cost per acquisition biar nggak boncos.
2. Manfaatkan Momentum Social Commerce dan Live Shopping
Inflasi yang melandai ke 2,88% bikin harga kebutuhan pokok lebih terkendali, dan ini otomatis nambah disposable income masyarakat buat belanja hal lain di luar kebutuhan pokok.
Mengutip Yusuf Hidayatullah, live shopping yang digerakkan influencer atau KOL diprediksi menyumbang hingga 25% total transaksi social commerce Indonesia pada 2026.
Momentum ini pas banget buat brand yang jualan produk consumer, apalagi kategori fashion, beauty, dan FMCG yang paling sensitif sama perubahan daya beli. Bikin jadwal live shopping rutin di TikTok Shop dan Shopee Live.
Konsistensi ini yang bikin algoritma platform makin sering nge-push konten brand ke FYP audiens baru, sekaligus nangkep demand yang lagi mulai naik lagi.
3. Luncurkan Campaign yang Nangkep Purchase Intent yang Lagi Naik
Deflasi bulanan 0,14% jadi indikator kalau tekanan harga ke masyarakat lagi mengendur, bukan cuma di kebutuhan pokok tapi juga persepsi umum soal kondisi ekonomi. Sentimen ini biasanya berbanding lurus sama niat belanja yang lebih terbuka.
Ini momen pas buat brand ngeluncurin produk baru, promo bundling, atau kampanye awareness yang lebih berani dari biasanya.
Jangan cuma ngandelin diskon generik. Rancang campaign dengan storytelling yang relevan sama situasi ekonomi terkini, misalnya angle “waktunya upgrade lagi” yang terasa related sama momentum pemulihan ini.
4. Perkuat Kehadiran Brand di Social Media dengan Konten yang Konsisten
Masuknya dana asing Rp7,1 triliun ke pasar saham jadi sinyal kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia, dan sentimen positif ini biasanya ikut nular ke level konsumen. Brand yang aktif dan konsisten di social media punya peluang lebih besar buat capture perhatian konsumen yang makin optimis ini.
Berikut beberapa taktik yang bisa langsung dijalankan:
- Bikin content calendar mingguan dengan mix konten edukasi, entertainment, dan soft promosi
- Repurpose satu konten jadi beberapa format, dari Reels ke TikTok sampai carousel Instagram
- Libatkan tim internal atau customer buat bikin UGC yang terasa lebih genuine
5. Bangun Trust Lewat Influencer Marketing yang Tepat Sasaran
Saat sentimen ekonomi membaik, konsumen jadi lebih terbuka coba brand atau produk baru, tapi mereka tetap butuh validasi sebelum ambil keputusan beli. Survei menunjukkan 82% konsumen Indonesia lebih mempercayai rekomendasi dari micro influencer dibanding iklan konvensional seperti TV atau banner digital.
Nano influencer bahkan tercatat punya median engagement rate lebih tinggi dibanding micro influencer di hampir semua niche dan platform. Ini penting banget di fase pemulihan kayak sekarang, karena konsumen butuh trust signal yang kerasa personal.
Kombinasikan beberapa tier influencer sesuai tujuan campaign, misalnya nano untuk trust building di komunitas spesifik, dan macro untuk boost awareness secara lebih luas dan cepat.
Ngerancang strategi marketing yang tepat di tengah momentum pemulihan ekonomi ini emang butuh eksekusi yang rapi, mulai dari content planning, live shopping activation, sampai kurasi influencer yang sesuai sama brand value.
Kalau Crepanity butuh partner buat eksekusi Social Media Management atau Influencer Marketing yang terukur dan hasilnya kelihatan, langsung aja klik ikon WhatsApp di pojok kanan bawah, tim Crepa siap bantu dari strategi sampai eksekusi.
Simpulan
Sekali lagi, ekonomi Indonesia mulai kasih sinyal pemulihan yang konkret, mulai dari PMI manufaktur yang balik ekspansif, inflasi yang melandai, sampai dana asing yang kembali masuk ke pasar saham.
Momentum ini jadi alasan kuat buat brand geser strategi marketing dari yang tadinya defensif jadi lebih ekspansif dan berani. Beberapa poin penting yang udah kita bahas di artikel ini:
- 3 sinyal ekonomi membaik: PMI manufaktur naik ke zona ekspansif, inflasi melandai ke 2,88%, dan dana asing kembali net buy di pasar saham
- Kenapa harus geser ke ekspansif: window cost acquisition masih rendah, purchase intent konsumen naik, dan momentum ini sifatnya terbatas
- 5 strategi marketing yang bisa diterapkan: naikkan budget iklan bertahap, manfaatkan social commerce dan live shopping, luncurkan campaign yang capture purchase intent, perkuat kehadiran di social media, dan bangun trust lewat influencer marketing
