Crepanity pasti familiar sama brand yang buru-buru gaet KOL kekinian, tapi campaign-nya tetap flat dan gagal nyantol di hati Gen Z. Fenomena strategi campaign branding gen z begitu sering banget memang terjadi.
Nah, biar lebih kebayang gimana eksekusinya, campaign Chitato x TREASURE “Make The Wave You Lite” bisa jadi contoh konkret buat dibedah. Let’s see apa yang bisa kita pelajari!
Kenapa Brand Ambassador Aja Nggak Cukup untuk Nge-hook Gen Z?
Sebelum masuk ke studi kasus Chitato x TREASURE, penting buat Crepanity paham dulu akar masalahnya. Banyak brand masih percaya kalau strategi campaign branding gen z cukup diselesaikan dengan pasang wajah populer di depan kamera.
1. Gen Z Cepat Mengenali Endorsement yang Cuma Settingan
Gen Z tumbuh dengan feed yang penuh sponsored content, jadi mereka udah otomatis kebal sama pola endorse yang keliatan settingan.
Riset marketing.co.id nyebutin Gen Z punya sensitivitas tinggi terhadap keaslian dan cepat mengenali brand mana yang benar-benar hadir untuk mereka, dan mana yang cuma berusaha terlihat relevan.
Makanya kalau strategi campaign branding gen z cuma nempelin wajah KOL tanpa cerita yang related, audiens bakal auto skip meski nama besar sekalipun dipajang.
2. Komunikasi Satu Arah Udah Nggak Relevan buat Bangun Keterikatan
Gen Z nggak cuma jadi penonton pasif, mereka sekaligus evaluator, kritikus, dan distributor opini dalam waktu bersamaan. Brand ambassador tanpa ruang interaksi bikin campaign berhenti di level awareness doang.
Contohnya campaign yang cuma rilis satu billboard atau TVC tanpa aktivasi lanjutan. Strategi campaign branding gen z yang efektif justru kasih ruang buat fans ikut terlibat, bukan sekadar jadi penonton.
3. Gen Z Nolak Bukan Iklannya, Melainkan Relevansinya
Banyak brand keliru nyimpulin Gen Z kebal iklan, padahal faktanya mereka cuma nolak yang nggak relevan sama kehidupan mereka. Artikel dari Ciputra University nyebutin Gen Z bukan kebal iklan, mereka kebal pada iklan yang tidak relevan.
Poin ini krusial buat strategi campaign branding gen z. Konteks dan ketepatan pesan jauh lebih menentukan hasil campaign, dibanding sekadar seberapa sering iklan itu muncul di feed mereka.
4. Value Brand Kudu Selaras sama Value Audiens
Autentisitas buat Gen Z bukan soal visual sempurna, tapi soal konsistensi nilai dan keberanian brand tampil apa adanya. Poin ini sering luput dari strategi campaign branding gen z yang cuma fokus di angka reach.
Kalau brand ambassador yang dipilih nggak punya keselarasan value sama audiens, campaign cuma numpang tenar sesaat. Nggak ada trust jangka panjang yang kebentuk dari situ, dan efeknya susah kerasa di sales.
Studi Kasus: Campaign “Make The Wave You Lite” dari Chitato x TREASURE
Ngomongin soal keselarasan value tadi, campaign Chitato x TREASURE ini pas banget jadi contoh nyata gimana strategi campaign branding gen z dieksekusi dengan detail, bukan asal tempel wajah BA. Yuk bedah satu-satu taktiknya.
1. Event Peluncuran yang Dibangun sebagai Momen
Chitato nggak sekadar rilis press release lewat email ke media. Mereka bikin event fisik di Pulau Payung, Kepulauan Seribu, lengkap dengan opening speech dari Harry S. Wibowo selaku Head of Marketing Snack Food.
2. Positioning Produk yang Diselaraskan dengan Pesan Campaign
Chitato dan Chitato Lite itu dua produk dengan karakter beda, satu original satu versi lebih ringan. Tapi campaign ini nggak minta orang milih mana yang lebih unggul.
Pesannya justru dua produk ini boleh beda gaya, tapi tetap satu tujuan yaitu bikin orang percaya diri berkembang dengan caranya sendiri. Ini contoh strategi campaign branding gen z yang kuat karena positioning produk dan pesan campaign nggak jalan sendiri-sendiri.
3. Pemilihan Brand Ambassador Berdasarkan Kecocokan Filosofi, Bukan Sekadar Nama Besar
TREASURE memang punya basis fans besar di Indonesia, tapi alasan utama pemilihannya soal karakter tiap member yang beda-beda namun tetap solid sebagai satu tim.
Harry S. Wibowo sendiri secara eksplisit bilang, keberagaman karakter member TREASURE itulah yang sejalan sama semangat campaign, bukan sekadar soal follower atau tren K-pop. Ini bukti strategi campaign branding gen z bisa lebih tajam kalau BA dipilih karena kecocokan value.
4. Aktivasi yang Menyebar ke Banyak Titik Sentuh
Istilah “aktivasi” di sini maksudnya berbagai bentuk kegiatan buat menghidupkan campaign, bukan cuma satu iklan doang. Chitato bikin video digital, konten media sosial, kegiatan komunitas, sampai pengalaman interaktif buat penggemar.
Erwin Susanto, Brand Manager Potato Chips Category, bilang tujuannya biar campaign ini bisa dirasain langsung sama konsumen, bukan cuma ditonton lewat layar HP. Taktik ini bikin strategi campaign branding gen z lebih nempel karena audiens ngerasa jadi bagian dari cerita.
5. Satu Closing Message yang Konsisten di Semua Konten
Meski medium campaign-nya macam-macam, dari event fisik sampai konten media sosial, pesan penutupnya tetap konsisten yaitu “beda gaya bukan berarti beda arah”.
Konsep gampangnya kayak tim kerja yang boleh punya cara berbeda-beda, tapi tetap gerak ke satu tujuan yang sama. Konsistensi pesan kayak gini bikin strategi campaign branding gen z gampang diinget karena audiens nggak bingung nangkep intinya di setiap channel.
Pelajaran yang Bisa Diterapkan Brand Lain
Dari studi kasus Chitato x TREASURE tadi, ada beberapa taktik yang sebenarnya bisa diadaptasi brand di industri apapun.
Berikut pelajaran konkret yang bisa langsung Crepanity terapkan buat campaign berikutnya.
1. Pilih Brand Ambassador Berdasarkan Value Fit
Sebelum deal sama KOL atau BA, cek dulu apakah value dan cara mereka berkarya selaras sama pesan brand. Jangan cuma lihat angka followers atau engagement rate doang.
Caranya gampang, bikin daftar 3-5 nilai inti campaign, lalu cocokkan sama rekam jejak konten si kandidat BA. Kalau nggak nyambung, sebesar apapun followers-nya, campaign bakal terasa dipaksakan.
2. Rancang Aktivasi Multi-titik Sentuh Sejak Tahap Perencanaan
Jangan nunggu campaign jalan baru mikirin aktivasi tambahan. Rencanakan dari awal titik sentuh apa aja yang mau dipakai, misalnya event fisik, konten media sosial, sampai program komunitas.
Strategi campaign branding gen z bakal lebih maksimal kalau tiap titik sentuh punya peran jelas. Event fisik buat bangun momen, media sosial buat sebar cerita, komunitas buat jaga keterlibatan jangka panjang.
3. Jaga Satu Closing Message yang Konsisten di Semua Channel
Sebelum eksekusi, tentuin dulu satu kalimat inti yang mau ditinggalkan di benak audiens. Semua konten, dari caption sampai script video, harus balik ke kalimat itu.
Kalau pesannya beda-beda tiap channel, audiens gampang bingung dan campaign kehilangan fokus. Konsistensi ini yang bikin strategi campaign branding gen z gampang diinget, bukan cuma numpang lewat di feed.
4. Libatkan Audiens Jadi Bagian dari Cerita, Bukan Cuma Penonton
Gen Z lebih gampang connect kalau mereka ngerasa jadi bagian dari campaign, bukan cuma target pasar yang disuguhi iklan. Kasih ruang partisipasi, entah lewat UGC, komunitas, atau pengalaman interaktif.
- Bikin challenge atau UGC campaign yang gampang diikutin
- Sediakan momen meet and greet atau interaksi langsung dengan BA
- Buka ruang feedback dari komunitas fans di media sosial
Butuh Partner buat Eksekusi Strategi Campaign Branding Gen Z yang Tepat Sasaran?
Nyusun konsep campaign sebagus apapun bakal percuma kalau eksekusi di lapangan meleset, apalagi soal pemilihan BA yang cocok sama karakter brand. Di sinilah peran Influencer Marketing dari Crepa jadi krusial.
Tim Crepanion bantu Crepanity dari riset kecocokan value BA, negosiasi kerja sama, sampai eksekusi konten biar campaign nggak cuma rame sesaat tapi beneran nempel di benak Gen Z. Yuk konsultasiin campaign kamu, klik ikon WhatsApp di pojok kanan bawah sekarang.
Simpulan
Strategi campaign branding gen z yang berhasil nggak pernah lahir dari asal pasang wajah populer di depan kamera. Studi kasus Chitato x TREASURE nunjukkin kalau kombinasi value fit, aktivasi multi-titik sentuh, dan pesan yang konsisten jadi kunci utama.
Beberapa poin penting yang bisa Crepanity bawa pulang dari artikel ini:
- Brand ambassador aja nggak cukup, karena Gen Z cepat mengenali endorsement yang cuma settingan dan lebih percaya pada relevansi dibanding popularitas semata
- Chitato x TREASURE sukses karena positioning produk, pemilihan BA, dan aktivasi campaign dirancang saling selaras sejak awal, bukan jalan sendiri-sendiri
- Brand lain bisa adaptasi taktiknya lewat value fit check, perencanaan aktivasi multi-channel, closing message yang konsisten, dan ruang partisipasi buat audiens
